Bersyukurlah
karena Tuhan mengirimkan seorang nabi sempurna yang telah menyemai
benih salah satu peradaban besar dunia. Dan berbahagialah karena Tuhan
telah menghiasi peradaban itu dengan keindahan dan keberisian cita
makna. Islam datang dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang maha indah
yang hanya dapat dicapai dengan pengalaman pribadi yang tiada sempurna
mampu dilukis kata. Jangan pernah katakan agama yang dibawa Sang Cahaya
Ilahi ini miskin rasa dan makna. Di sinilah kau lihat dan akan kau
temukan apa yang selalu kau sangsikan keberadaanya. Sebuah penerimaan
baru yang belum pernah kau rasa. Mari! Kau yang selalu dihinggapi rindu
dan cinta, bersamalah kami menyelami kesejukan samudera yang maha dalam
ini. Di sinilah rindu dan cintamu akan terpuaskan.
Islam memiliki tradisi sastra yang dapat
dikatakan berbeda dengan berbagai macam karya lain di luarannya. Hal ini
tidak lepas dari dasar yang digunakan oleh pelaku-pelaku sastra
tersebut. Dasar yang mewarnai corak ragam seni dan sastra Islam antara
lain; bertumpu pada al-Qur’an, hadist, falsafah, dan estetika di dalam
Islam. Lalu apa yang membedakan sastra Islam dengan sastra lainnya?
Bukankah semua sastra memiliki ciri-ciri yang hampir sama, yaitu paling
tidak harus memiliki empat unsur yang membentuknya. Pertama, majaz
(figuratif). Kedua, tasbih (image atau citraan). Tiga, tamsil (simbol
perumpamaan). Dan yang terakhir, istiarah (metafora). Dan saya pikir
sastra manapun memiliki hal itu, meski tidak mutlak.
Perbedaan mendasar
antara sastra Islam dan sastra lainnya dapat dikatakan terletak pada
kedekatan sastra Islam pada dunia tasawuf. Sastra Islam setidaknya
berkembang karena tasawuf. Sejak abad ke-10 M, sastra telah digunakan
oleh para sufi sebagai media dalam kegiatan keruhanian mereka. Perbedaan
inilah yang nampak relevan untuk menjadi ciri khas sastra Islam,
meskipun tidak menutup kemungkinan ada banyak perbedaan lainnya. Dari
sinilah kemudian muncul sastra sufi, yaitu sastra Islam yang berisi
artikulasi-artikulasi pengalaman sufi.
Dalam perkembangannya, sastra
sufi disemarakkan oleh dua aliran besar sastra. Pertama, sastra Arab
yang berkembang dari abad 8 M hingga abad 13 M. Aliran ini dipelopori
oleh seorang sufi wanita, Rabiah al-Adawiyah, yang terkenal karena
begitu cintanya pada Tuhan, hingga segala penderitaan dalam hidupnya
tidak ada arti baginya, kecuali itu berkenaan dengan kecintaannya pada
Allah. Selain Rabiah sastra Arab juga diwarnai oleh Dhu al-Nun al-Misri,
Sumnun bin Hasan Basri, Bayazid al-Bistami, Saqiq al-Balkhi, Sari
al-Saqati, Junaid al-Baghdadi, Abu Bakar al-Syibli, Abu al-Hasan
al-Nuri, Mansur al-Hallaj, Niffari, dan Abu al-Qasim al-Sayyani. Sastra
sufi Arab kemudian mencapai masa jayanya pada tokoh-tokoh seperti Ibn
`Arabi, Sustari, Sadruddin al-Qunyawi, Ibn Atha`ilah al-Sakandari, Ibn
al-Farid, Ibn Tufayl, Qushairy, Imam al-Ghazali, dan Najamuddin Daya.
Aliran sastra kedua yang mewarnai sastra
sufi adalah Sastra Persia. Sastra sufi yang berkembang sejak abad 11
hingga 18 M ini diwarnai oleh tokoh-tokoh seperti Sana`i, Abu Sa`id
al-Khayr, Khwaja Abdullah Anshari, Baba Kuhi, Baba Tahir, Fariduddin
`Attar, Ruzbihan Baqli, Jalaluddin Rumi, Nizami al-Ganjawi, Fakhrudin
`Iraqi, Sa`di, Suhrawardi, Mahmud al-Shabistari, Maghribi, dan Jami
Karim al-Jili.
Dari orang-orang inilah sastra sufi
berkembang ke berbagai tempat, terutama tempat-tempat yang penduduknya
beragama Islam. Sastra sufi tercatat telah merasuki sastra yang
berkembang di negara-negara seperti: Turki, Afrika, India, dan Kepulauan
Melayu.
Sastra Sufi, Hanyakah Cinta Ilahi?
Tentu ada yang membedakan antara sastra
Arab maupun sastra Persia pada umumnya, dengan sastra sufi. Philip K.
Hitti dalam History of Arab-nya mengatakan bahwa pada awalnya sastra
Arab bercirikan ungkapan-ungkapan yang singkat, tegas, dan sederhana,
namun dalam perkembangannya sastra Arab dan Persia tumbuh dengan
kecendrungan untuk menggunakan ungkapan-ungkapan kiasan dan bersayap.
Selain itu biasanya kedua aliran sastra berkisah tentang kehidupan
pengelana, kisah cinta anak manusia, lingkup padang pasir,
masalah-masalah sosial, dan terkadang kritik-kritik terhadap pengusa.
Sedangkan sastra sufi dalam bahasannya lebih menekankan pada
ungkapan-ungkapan cinta pada Tuhan. Dalam salah satu sajak Rumi,
gambaran tentang ungkapan-ungkapan cinta itu akan dapat kita lihat;
Suatu malam seorang berseru “Allah!”
berulang-kali hingga bibirnya menjadi manis oleh pujian-pujian bagi-Nya.
Setan berkata, “ Hai kau yang banyak berkata-kata, mana jawaban ‘Aku di
sini’ (labayka) atas semua seruan ‘Allah’ ini?Tak satupun jawaban yang
datang dari ‘Arsy: berapa lama kau akan berkata ‘Allah’ dengan wajah
suram?………………………………………………….
Dan semangatmu adalah utusan-Ku
kepadamu. Ketakutanku dan cintamu adalah jerat untuk menangkap
Karunia-KuDi balik setiap ‘O Tuhan’-Mu selalu ada ‘Aku di sini’ dariku.”
Tema cinta menjadi tema utama dalam
sastra sufi, menurut Dr. Abdul Hadi W.M karena cinta merupakan peringkat
keruhanian tertinggi dan terpenting dalam dunia sufi. Hanya dengan
cintalah ungkapan-ungkapan perasaan antara seorang sufi dengan Tuhannya
dapat termanifestasikan. Cinta bukan sekedar cinta biasa. Cinta dalam
kehidupan sufi adalah cinta altruis pada yang dicintainya. Seperti yang
digambarkan dalam sajak Rumi di atas, seorang pencinta Tuhan dalam
cintanyapun tidak akan mengatasnamakan dirinya sendiri dalam setiap
munajatnya.
Cinta seperti inilah yang disebut cinta sejati, cinta yang
terdiri dari; keintiman (uns) seorang pecinta dan yang dicintainya,
kerinduan (syawq), kecenderungan hati (mahabbab), ketulusan, dan
kesabaran (sabr). Tidak jauh berbeda dengan Rumi, Rabiah al-Adawiyah-pun
dalam setiap sajak dan pusinya begitu bermandikan cahaya cinta;
Saudara-saudaraku, Khalwat merupakan
ketenangan dan kebahagiaankuKekasihku selalu di hadapankuTak mungkin aku
mendapat pengganti-NyaCinta-Nya pada makhluk cobaan bagikuO, hati yang
ikhlasO, tumpuan harapanBerikanlah jalan untuk meredam keresahankuO,
Tuhan, sumber bahagia dalam hidupkuPada-Mu saja, kuserahkan hidup dan
keinginan
Kupusatkan seluruh jiwa ragakuDemi mencari ridha-MuApakah harapanku akan terwujud?
Agak berbeda dengan sufi Rumi, Rabiah
yang terkenal cantik, tetap tidak menikah dikarenakan kecintaannya pada
Allah. Dengan begitu cinta menurut Rabiah adalah totalitas cinta yang
dapat diberikan kepada yang kekasihnya. Seorang pecinta harus rela
berkorban demi yang dicintainya. Seperti halnya Rabiah yang rela
mengorbankan apapun demi mendapatkan keridhaan dari cintanya. Meskipun
pada akhirnya dalam kesufian Rumi totalitas cintanyapun muncul ketika
muncul tokoh sufi misterius yang menjadi kawan sekaligus guru
sufinya-Syamsi Tabriz.
Namun penulis tetap menilai bahwa totalitas cinta
yang dimiliki Rabiah terlihat lebih besar dibandingkan Rumi. Terlihat
dari bait terakhir puisinya di atas. Dia berkorban hanya karena berharap
akan keridhaan sang kekasih, apapun ia lakukan untuk itu. Selain cinta
Rabiah hanya diberikan pada seorang kekasih semata, hanya Tuhannya.
Sedangkan di dalam hubungan percintaan Rumi, terlihat ada hubungan
percintaan segitiga antara Rumi, Syam, dan Allah. Rumi begitu mencintai
Syam sampai tergila-gila karena sempat ditinggal, sedangkan kecintaan
Rumi pada Allah-pun tidak diragukan.
Meskipun kita juga harus melihat
siapa sebenarnya Syam ini. Tokoh Syamsi Tabriz ini jangan-jangan
hanyalah tokoh karangan yang dibuat Rumi untuk menjadi sosok pengganti
bagi Allah. Dan jika memang demikian, kesimpulan lainpun harus dibuat.
Namun demikian pendapat umum yang beredar tentu bahwa Syamsi Tabriz ini
adalah guru spiritual Rumi. Yang karenanya, murid-murid Rumi merasa
dicampakkan oleh gurunya dan mereka kemudian sepakat mengusir Syam
secara diam-diam dari kehidupan Rumi.
Tema utama dalam sastra sufi memang
adalah cinta ilahi. Namun, selain tema ini, tema lainpun tetap menjadi
bagian penting dalam sastra sufi seperti yang terlihat dalam sajak Rumi
tentang Pertentangan Agama berikut;
Ketujuh-puluh golongan ini akan bertahan sampai Hari Kebangkitan tiba: percakapan dan alasan dari orang bid’ah tidak akan gagal
Banyaknya kunci atas harta benda adalah bukti ketinggian nilainya
Panjangnya jalan yang berliku-liku,
bertebing dan berjurang, serta banyak penyamun yang menghadangnya,
adalah petunjuk akan besarnya tujuan perjalanan setiap ajaran yang palsu
menyerupai sebuah jalan pegunungan, bertebing curam, dan berpenyamun
Beriman secara buta adalah berada
dalam dilema, karena para pemuka berdiri tegak pada salah satu sisinya:
tiap-tiap kelompok bangga dengan caranya sendiri
Hanya Cinta yang dapat mengakhiri
pertentangan, hanya Cinta yang menjadi penyelamat apabila engkau
berteriak meminta tolong terhadap perbedaan pendapat mereka
Orang yang fasih bicara akan terperangah oleh Cinta: tak berani bertengkar
Pecinta takut untuk membantah, supaya mutiara mistik jangan sampai menetes dari mulutnya
Seolah-olah seekor burung yang sangat indah hinggap bertengger di atas kepalamu, lantas jiwamu takut ia akan terbang
Engkau tak berani bergerak ataupun bernafas, engkau menahan batuk, supaya burung itu tidak terbang.
Rumi yang terkenal dengan madzab
Cintanya, memang seolah agak geram melihat pertikaian yang terjadi
antara firqoh-firqoh yang ada dalam Islam. Hadis yang menyebutkan bahwa
pada hari Akhir nanti umat Islam akan terpecah menajadi tujuh puluh
golongan dan hanya satu yang selamat menjadi pijakan pertikaian antar
golongan di dalam tubuh Islam. Rumi seakan tidak rela melihat pertikain
memperebutkan status satu golongan yang selamat itu. Puisinya ini
menjadi semacam peringatan bagi para pemimpin golongan-golongan itu,
agar tidak saling bertikai hanya karena sesuatu yang belum terjadi.
“Jadikanlah semua berdasarkan cinta kasih, maka kalian akan selamat.”
Sepertinya itulah pesan yang ingin disampaikan Rumi pada kita semua.
Beberapa Tokoh Sastra Sufi
Di atas telah disebutkan bahwa
tokoh-tokoh sastra sufi begitu banyak. Dan tiga dari sekian banyak sufi
itu akan sedikit dipaparkan berikut ini. Mereka adalah Rabiah
al-Adawiyah, Fariduddin `Attar, dan Jalaluddin Rumi. Dan penulis harap
dari pemaparan ini, dapat muncul gambaran yang lebih jelas terhadap
corak sastra sufi.
Rabiah al-Adawiyah (w. 764 M) dan Totalitas Cintaanya
Sebelum masa Rabiah al-Adawiyah datang,
mistisisme Arab cenderung masih berupa gerakan asketisme yang
benar-benar mementingkan kehidupan akhirat dan menafikan dunia. Hidup
para orang-orang sufi identik dengan kesederhanaan bahkan kemelaratan
minim keindahan. Mereka berkelana dengan baju wool yang pada umumnya
terlihat lusuh. Menyendiri dan jarang beraktivitas bersama masyarakat.
Dalam hubungannya dengan Tuhanpun mereka mengandalkan tawakal dan takwa.
Rabiah al-Adawiyah datang dan sedikit demi sedikit merubah pandangan
tersebut. Meski jalan asketis tetap tidak ditinggalkan, namun Rabiah
telah memberi warna lain dalam kehidupan tasawuf. Dengan sajak dan
munajat-munajat yang ia lantunkan pada Allah, benih-benih Cinta mulai
tumbuh di dalam tasawuf.
Rabiah yang sejak kecil sudah terbiasa
hidup menderita, mencari-cari hakikat hidup yang ia jalani. Sambil
meneruskan usaha ayahnya menyeberangkan orang dengan perahu yang
diwarisinya, ia tetap selalu beribadah pada Allah setiap saat. Kian hari
kian ia semakin khusuk beribadah pada Allah, ia mencari ridha-Nya.
Namun, ia tetap dalam kepedihan dan kesedihan karena merasa masih jauh
dengan apa yang dicarinya. Ketika sedang khusuk tiba-tiba didengarlah
suara menyebut namanya. “Rabiah janganlah engkau bersedih hati. Pada
hari kiamat nanti orang-orang shaleh akan menaruh hormat padamu.”
Dan inilah salah satu munajat Rabiah pada
Tuhan;O. Tuhanku…Orang-orang berkhalwat ingin dekat denganmuIkan-ikan
di laut bebas memuji keesaan-MuDemi keagungan-Mu bergelora ombak-ombak
di lautDemikian malam gelap gulitaCahaya siang terang benderangDan
bahtera berlayar di laut bebasBulan purnama bersinar cerahBintang
berkelap-kelipSemuanya menunjukkan keagungan-MuKarena Engkau Mahakuasa
Kecintaannya pada Allah tiada taranya. Ia menghabiskan waktu-waktunya
hanya untuk mengingat Allah. Orang lain mungkin telah menganggapnya gila
karena ia sering mengucapkan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti.
Namun dibalik kata-kata yang sulit dimengerti orang awam,
lantunan-lantunan nyanyian cinta telah ia panjatkan pada kekasihnya.
Diala Rabiah al-Adawiyah sang mistikus perempuan paling populer di dunia
Islam.
Farriduddin ‘Attar dan Pencarian Burung-burung pada Simurgh
Farriduddin Abu Hamid Muhammad bin
Ibrahim lebih dikenal dengan nama Attar, si penyebar wangi. Meskipun
sedikit yang diketahui dengan pasti tentang hidupnya, namun agaknya
dapat dikatakan bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 506 H/1119 dekat
Nisyapur di Persia Barat-Laut (tempat kelahiran Umar Khayyam) dan
meninggal sekitar tahun 607 H/1220 di Syaikhuhah.
Farriduddin ‘Attar pada mulanya hanyalah
seorang pemilik sebuah kedai minyak wangi sebelum ia menjalani kehidupan
tasawufnya. Dikisahkan bahwa kedainya kedatangan seorang Darwis
berpakaian jubah wool. Darwis itu menangis ketika menghirup wewangian
minyak wangi di kedai ‘Attar. Karena menganggap Darwis ini hendak
meminta belas, ‘Attar-pun menyuruh sang Darwis pergi. Tetapi sang Darwis
tidak mau pergi dan berkata pada ‘Attar; “Tidak ada yang dapat
menghalang saya dari meninggalkan kedaimu ini, dan mengucapkan selamat
tinggal kepada dunia yang bobrok ini. Apa yang ada padaku hanyalah jubah
bulu domba yang lusuh ini, tetapi aku justru kasihan kepadamu,
bagaimanakah kau dapat mengubah pandangan kau kepada persoalan maut dan
meninggalkan harta benda dunia ini?” Dan setelah berkata demikian sang Darwis meninggal di kedai ‘Attar.
Peristiwa inilah yang disinyalir membawa
perubahan pada diri ‘Attar. Sejak saat itu ia mulai berkelana mencari
guru-guru sufi untuk menemukan hakikat hidupnya. Meskipun jarang
disebutkan tentang pengalamannya ketika berkelana, namun menurut hemat
penulis ‘Attar telah berhasil mengalami pengalaman mistik dan menemukan
jati dirinya. Dan dalam Mantiq al-Tayr (Persidangan atau Musyawarah
Burung) inilah ia memanifestasikan pengalaman yang pernah ia jalani agar
lebih mudah dipahami.
Mantiq al-Tayr sendiri berkisah tentang
perjalanan sekawanan burung untuk mencari raja mereka yang disebut
sebagai Simurgh di Puncak Gunung Kaf yang agung itu. Dalam perjalanan
itu, para burung yang dipimpin oleh Hud-hud harus melalui tujuh jalan
yang melambangkan tingkatan-tingakatan keruhanian.
Pertama, jalan pencarian
(talab). Di jalan inilah seorang pencari mulai menjalani kehidupan
spiritualnya. Barbagai macam godaan duniawi harus dapat ia takhlukkan
untuk dapat mencapai jalan berikutnya. Pada tahapan ini pengupayaan
pembersihan diri harus diupayakan sesempurna mungkin. Para pencari
diharuskan berjuang dengan gigih untuk mendapatkan cahaya ilahi yang
didambanya dengan menghilangkan hasrat-hasrat duniawinya.
Kedua, jalan cinta. Di tahapan
ini sang pencari harus menemukan cinta sejati dalam dirinya untuk dapat
menghalau tangan hitam akal yang menutupi ketajaman mata batin. Hanya
dengan mata batinlah para pencari kebenaran ini dapat melihat realita
apa adanya. Mata hati tidak dapat dibohongi. Dalam kecintaanya, seorang
pencari haruslah memiliki kesudian untuk mengorbankan apa-apa darinya
demi yang diharapkannya—yang dicintanya. Keikhlasan dalam berkurban
menunjukkan seberapa besar cintanya pada kekasihnya. Demikianlah jalan
kedua merupakan jalan pengujian akan cinta seorang pencari cinta, atas
nama cinta. Dengan mata batin manusia akan menemukan sesuatu berdasarkan
hakekatnya, bukan hanya dari segi fisik belaka.
Berkenaan dengan ini saya menjadi
teringat akan kisah Yusuf dan Zulaikha yang disebutkan di dalam
al-Qur’an. Kisah percintaan sejati yang mengabaikan keindahan fisik demi
satu keindahan ruhani. Diceritakan bahwa ketika Zulaikha masih muda dan
berstatus istri wazir Mesir, ia jatuh hati pada Yusuf bin Ya’qub anak
angkat suaminya. Di masa mudanya, secara fisik Zulaikha adalah wanita
yang benar-benar cantik, paling tidak di kawasan Mesir saat itu. Demi
melihat ketampanan Yusuf, jatuh cintalah ia pada pemuda ini. Zulaikha
akhirnya mengutarakan juga hasratnya itu pada Yusuf. Namun, ada sesuatu
yang membuat Yusuf merasa tidak tertarik dengan Zulaikha. Selain wanita
ini masih bersuami, menurut Yusuf ia bukan kriteria wanita yang
diidamkannya, karena kelakuannya. Bagi Yusuf kecantikan bukan soal fisik
semata. Kecantikan terpancar karena dalam tubuh memancar kecantikan
jiwa pemiliknya, wanita seperti inilah yang diharapkan putra Ya’qub ini
sebagai pendampingnya.
Namun, setelah beberapa tahun dan ketika
usia Zulaikha sudah menua, Yusuf berbalik menjadi begitu mencintai
wanita yang dulu pernah ditolaknya. Hal ini karena Zulaikha telah
merubah sikap dan kelakuannya. Wanita ini telah menjadi seorang yang
taat beribadah, dan berbudi pekerti luhur. Zulaikha telah mengorbankan
segalanya demi Yusuf dan pada akhirnya Yusuf-pun tidak memperdulikan
kondisi fisik Zulaikha yang telah menua, mereka tetap saling mencintai
dengan cahaya kerupawanan ruhani masing-masing.
Cerita di dalam al-Qur’an ini tentu
memberi pesan kepada kita bahwa seseorang itu tidak dapat dinilai dari
segi fisiknya saja. Kadang ada orang yang dari segi fisik tidak begitu
menarik, tetapi memiliki kerupawanan ruhani. Demikian pula dengan orang
yang memiliki keelokkan fisik belum tentu memiliki kerupawanan ruhani.
Ketiga, jalan kearifan. Seorang
pencari setelah mata hatinya terbuka dan dapat melihat jelas realita
ciptaannya, maka otomatis kearifan akan menyertai kehidupannya. Jalan
makrifat dapat dilalui dengan cara tata cara ibadah yang khusuk, dan
latihan-latihan penempaan diri dalam. Tentu setelah melalui jalan cinta.
Tapi jika diperhatikan dengan seksama hubungan antara makrifat dan cara
memperolehnya, masih nampak ada kesulitan di sini untuk mengerti.
Bentuk ibadah sekhusuk apa yang harus dilakukan untuk dapat mencapai
kemakrifatan ini.Realita ibadah adalah ritual fisik sedangkan
kemakrifatan yang dicapai adalah ruhaniah. Bagaimana ini terhubung?
Melihat pola hubungan ini saya hanya
dapat sampai pada kesimpulan bahwa makrifat memang dapat dicapai dengan
ritual-ritual fisik ibadah yang disertai cinta seperti yang ada pada
tahapan sebelum tingkatan ini, yaitu cinta. Kesungguhan hati untuk
mencari dilandasi cinta pada yang dicarinya pada akhirnya membuka pintu
kearifan ini.
Keempat, jalan kebebasan. Jalan
ini adalah tahapan para pencari sudah mampu menghilangkan nafsu untuk
mendapatkan sesuatu dengan mudah atau dengan ikhtiar biasa. Dalam
tingkatan ini kesibukan seorang pencari akan fokus pada hal-hal yang
utama dan hakiki. Dia melihat segala seakan biasa, tanpa ada yang
menakjubkan.
Kelima, jalan Keesaan. Jalan
yang menampakkan semua pecah tercerai berai dan menjadi satu kembali.
Semua Esa dalam kesempurnaan Tuhan yang Esa. Semua nampak banyak, namun
satu saja.
Keenam, jalan hayat atau
ketakjuban. Dalam jalan ini sang pencari akan mengalami ketakjuban luar
biasa karena semua menjadi serba terbalik. Siang jadi malam, malam jadi
siang. Semuanya serba berubah. Dari hal ini saya mendapatkan sedikit
gambaran tentang adanya perubahan-perubahan ini. perubahan-perubahan ini
menurut saya merupakan tanda bahwa pengalaman-pengalaman fisis pada
kita tidak mampu untuk bersinergi dengan ke-tetap-an yang akan diraih
oleh seorang pencari pada jalan berikutnya. Siang menjadi malam dan
malam menjadi siang menjadi semacam peringatan pada para pencari bahwa
alam fisis itu tidak mampu mengadaptasikan dirinya pada kesempurnaan.
Ketika sampai pada level ini pengalaman-pengalaman fisis tadi laksana
lukisan yang disiram minyak, luntur dan tidak jelas lagi bentuknya.
Ketujuh, jalan faqir. Ketika
sampai pada level ini, sang pencari akan menemukan dirinya secara utuh.
Tanpa embel-embel apapun pada dirinya. Yang ditemukannya hanyalah
dirinya dan hakikat dirinya. Setelah tahap inipun sang pencari akan
menemukan simurgh yang tak lain adalah hakikat dirinya sendiri.
Melalui Musyawarah Burung ini, ‘Attar
mengajarkan pada kita bagaimana menjadi seorang pencari sejati. Dan dia
pernah membuktikannya.
Jalaluddin Rumi Sang Penabur Benih Cinta dari Konya
Rumi memiliki Nama Asli Jalal al-Din
Muhammad. Ia lahir dikota Balkh pada tanggal 30 September 1207 M. Ketika
masih remaja ia harus mengikuti orang tuanya pindah ke daerah Nisyapur
dan kemudian ke Bagdad untuk menghindari serangan bangsa Moghul di
Balkh.
Rumi begitu dikenal karena sajak-sajak cintanya yang mengajarkan
perdamain. Hal ini dapat dilihat dalam salah satu sajaknya “Nisbinya
Keburukan”;
Di dunia ini tiada keburukan yang
mutlak: keburukan itu nisbiSadarilah kenyataan ini. Di dunia waktu
sesuatu pastilah menjadi pijakan bagi seseorang dan belenggu bagi yang
lainnya.Bagi seseorang merupakan pijakan, bagi yang lainnya merupakan
belenggu; bagi seseorang merupakan racun, bagi yang lainnya merupakan
manis dan berfanfaat laksana gulaBisa merupakan sumber kehidupan bagi
ular, namun maut bagi manusia; lautan merupakan sumber kehidupan bagi
binatang laut, namun bagi makhluk daratan merupakan luka yang
mematikan………………………………………………………………………………………………………..
Semua yang dibenci menjadi yang dicintai manakala ia membawamu kepada Sang Kekasih-mu
Sajak ini menjelaskan bahwa apa yang kita
lihat pada dasarnya akan selalu berubah dan memiliki keistimewaannya
masing-masing. Tidak perlu kita menyombongkan diri hanya karena
ketampanan atau kekayaan atau kelebihan fisik lainnya. Hanya dengan
melihat kelebihan dengan mata hatilah kita dapat tahu kemutlakan apa
adanya. Tanpa mata hati kita selalu tertipu dengan segala bentuk fisik
yang menipu.
Jejak Sastra Sufi Indonesia ada dalam karya-karya Hamzah Fansuri
Seperti yang dikatakan Dr. Abdul Hadi
W.M, biografi tentang Hamzah Fansuri memang tetap kabur. Belum ada
bukti-bukti yang memberi penjelasan tentang asal-usul sastrawan sufi
ini. Namun yang jelas Hamzah Fansuri adalah tokoh penting yang memberi
warna pada khasanah kesustraan melayu. Selain seorang sastrawan, Hamzah
Fansuri juga adalah seorang sufi yang berpengaruh di zamannya. Lazimnya
seorang sastrawan yang dipengaruhi oleh spiritual sufi, karya-karya
Hamzah Fansuri-pun kental dengan unsur-unsur kesufian. Yang
pembahasannya tidak akan jauh dari pembahasan Tuhan, cinta, dan
asketisisme. Tema-tema yang menandai bahwa Hamzah Fansuri memang
mewarisi tradisi sastra sufi, baik yang bercorak Arab maupun Parsi.

Selain itu beberapa sajak Hamzah Fansuri, kerap merujuk pada tokoh-tokoh
sastra sufi, misalnya Fariduddin ‘Attar, Jalaludin Rumi, dan Ahmad
Ghazali. Hamzah Fansuri banyak sekali menghasilkan sajak-sajak sufi yang
pada umumnya tidak memiliki judul tersendiri. Bahkan namanyapun kerap
kali tidak dicantumkan dalam karya-karyanya itu. Hal inilah yang
memunculkan kesulitan untuk membedakan karya-karya sastra miliki Hamzah
Fansuri dengan sastrawan lainnya. Di antara karya-karya yang dinisbatkan
kepadanya yang karena beberapa hal, karya sastra berupa sajak-sajak itu
diragukan adalah asli karyanya. Sajak-sajak itu adalah Sya’ir dagang,
ikat-ikatan bahr al-Nisa, dan Syai’r Perahu yang membuat namanya dapat
dikenang sampai sekarang. Di dalam bagian sajak-sajak ini terlihat
ketidakotentikan karya Hamzah Fansuri.
Hamzah Fansuri memiliki karya-karya yang
agak berbeda dengan karya sastra sufi pendahulunya. Karya Hamzah Fansuri
memiliki keunikan pada rima yang digunakannya. Rima yang dipakai dalam
setiap sajak yang dibuatnya selalu A-A-A-A, satu hal yang unik memang.
Kita dapat melihatnya dengan memperhatikan syair Hamzah Fansuri sebagai
berikut:
Dengarkan di sini, hai anak datu
Enkaulah khalifah dari ratu
Wahid-kan emas dan mutuSupaya dapat pandangmu satu Ruh al-quds terlalu payah
Akhir mendapat di dalam rumah
Jangan engkau cari jauh payah
Mahbub-mu dengan sertamu di rumah ……………………………
Hunuskan pedang, bakarlah sarung
Itsbatkan Allah nafikan patungLaut tawhid yogya kau harung
Di sanalah engkau tempat beraung
Meski dalam hal isi syair Hamzah Fansuri
tidak begitu jauh berbeda dengan syair-syair Rumi misal, namun dalam hal
penataan rima dan baris karya Hamzah Fansuri nampak lebih rapi
terlihat, meskipun kita juga harus melihat konteks bahasa yang dipakai
juga.
Untuk membedakan karya-karya sastra
ciptaan Hamzah Fansuri dengan karya-karya lainnya, Dr. Abdul Hadi W.M
telah memberikan 7 kriteria yang dapat dijadikan pegangan.
- Pertama, semua sajak Hamzah Fansuri menggunakan pola empat baris denga rima AAAA
- Kedua, dari makna batinnya
sajak-sajak Hamzah Fansuri menggunakan ungkapan perasaan fana, cinta
ilahi, kemabukan mistik, dan pengalaman perjalanan keruhanian.
- Ketiga, terdapat kutipan ayat-ayat muhtasyabihat al-Qur’an di dalam puisi-puisi dengan fungsi religius dan estetis.
- Keempat, terdapat beberapa
penanda kesufian seperti anak dagang, anak jamu, anak datu, anak ratu,
orang uryani, faqir, thalib, dan sebagainya.
- Kelima, terdapat ungkapan-ungkapan paradoks di dalam sajak-sajaknya.
- Keenam, adanya sejumlah baris syair Hamzah Fansuri yang memiliki kesamaan dengan baris-baris syair para penyair sufi Parsi
- Ketujuh, terdapat kata yang diambil dari bahasa Arab dan Jawa.
Kriteria-kriteria inilah yang kiranya dapat membantu dalam melihat dan memahami karya-karya Hamzah Fansuri.
Penutup
Manusia cenderung melihat semuanya secara
hitam putih. Mereka terkadang tidak tahu bahwa apa yang mereka katakan
benar mungkin salah, dan apa yang mereka klaim salah mungkin saja benar.
Sastra sufi memberitahu kita untuk mengetahui segala sesuatu secara
hakiki. Selain itu, dari sastra sufi kita juga diajarkan untuk hidup
dalam damai, saling mengasihin, dan menghormati.
Dan dalam konteks
keindonesiaan, seorang tokoh bernama Hamzah Fansuri telah memulai
tradisi damai tersebut. Kitapun jadi harus belajar dan belajar lagi
untuk memahami diri kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Setelah era
Dr. Abdul Hadi W.M. dkk, jarang sekali para sastrawan Indonesia yang mau
bergelut dalam dunia Sastra Sufi. Mungkin bahasannya memerlukan
pengalaman batin yang begitu dalam, sehingga anak-anak muda masa kini
yang lebih cinta hidup praktis lebih suka meninggalkan cara-cara hidup
merepotkan ala para sastrawan sufi ini. Hidupkan sastra sufi Indonesia!
Daftar Pustaka
Hadi, Abdul, “Puisi-puisi Sufi Arab”, Diktat Kuliah Seni dan Sastra Islam
__________, “‘Mantiq al-Tayr’: Alegori Sufi Fariduddin al-`Attar”, diktat mata kuliah Seni dan Sastra Islam ICAS-Paramadina
__________, Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri, Jakarta: Paramadina, 2001
Hitti, K., Philip, History of the Arabs, Jakarta: Serambi, 2005
Kertanegara, Mulyadi, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago, Jakarta: Paramadina, 2000
Leaman, Oliver, Menafsirkan Seni dan Keindahan Estetika Islam, Bandung: Mizan, 2005
Muhammad, Atiyah Khamis, Rabiah al-Adawiyah, Jakarta: Pustaka Firdaus
Nicholson, A., Reynold, Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi, terj. Sutejo Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000