Tampilkan postingan dengan label New World. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label New World. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Oktober 2012

Sejarah Salib

nato_swastikaSalib adalah lambang yang sangat tua yang terdapat di dunia jauh sebelum lahirnya Yesus. Pada awalnya orang-orang Kristen tidak menggunakan salib sebagai lambang Kekristenan mereka. Benda ini tidak termasuk dalam daftar pertama lambang-lambang Kristen yang disediakan oleh St. Clement. Mulanya yang mereka gunakan justru bintang ikan (Pisces) dan anak domba sebagai lambang Penyelamatnya.
Ketika lambang salib akhirnya dipakai, orang-orang Kristen sempat merasa enggan terhadap gambar seorang laki-laki yang tergantung pada salib. Hal ini tidak pernah dilakukan Gereja Kristen sebelum abad ke tujuh. Faktanya, salib dengan orang tergantung padanya telah dimasukkan oleh orang Roma dari India berabad-abad sebelum zaman Kristen.
Walker berkata:
"...orang-orang Kristen dini bahkan menolak salib karena (berwatak) pagan ... Patung-patung Yesus dini tidak menggambarkan dia di atas salib, tetapi dalam samaran 'Gembala yang Baik' yang membawa domba." (Acharya, The Christ Conspiracy)
Churchward mengatakan:
"Pada dasarnya Salib merupakan tanda astronomi. Salib dengan lengan sama panjang menunjukkan waktu siang dan malam yang sama panjang, dan merupakan tanda equinox."
Sedangkan Derek Patridge menyatakan:
"Yang ditunjukkan oleh salib dengan lingkaran di dalamnya ... adalah sebenarnya matahari yang mengecil atau mati di zodiac, dan bukan orang."
w
Salib Keltik
Salib Keltik Pra Kirsten di tepi Sungai Shannon di Irlandia
ditemukan dengan gambar relief dewa bumi dan roh hutan.
CR_TAU
Salib Tau
Encyclopedia of Funk and Wagnalls menyebutkan bahwa:
"Tanda salib sudah digunakan sebagai lambang sebelum zaman Kristen." Di Italia –di mana terletak Roma yang menjadi salah satu pusat paling dini bagi penyebaran agama Kristen-, terdapat salib sebagai peninggalan dari zaman prasejarah. Di Mesir purba, yang memuja dewa-dewi yang mati menebus dosa dengan darah, salib dijadikan lambang keagamaan yang umumnya berbentuk huruf T, yang oleh para ahli disebut dengan Tau. Ada pula salib Tau yang di atasnya dipasang sebuah "gagang" yang berupa lingkaran. Lingkaran itu melambangkan kekekalan. Salib yang di atasnya bergagang lingkaran itu melambangkan kekelalan hidup atau kehidupan yang abadi. Salib berlingkaran (Crux Ansata/Salib Ankh) biasa dipakai di leher para pendeta Mesir kuno sebagai kalung. Di kalangan berbagai bangsa purba di sekitar wilayah Mediterania, termasuk Funisia yang bertetangga dengan Palestina, lambang salib Mesir itu juga mengandung pengertian hikmah atau kebijaksanaan rahasia."
cross
Crux Immisa (Salib Latin)
Prajurit Aramea juga memakai Salib sebagai
jimat perlindungan dalam pertempuran
Selain Salib Tau terdapat satu lagi jenis salib yang disebut dengan Salib Berlengan Sama Panjang (Crux Immissa Quadrata). Salib ini telah dikenal di seluruh dunia purba. Oleh para ahli dikatakan bahwa di kalangan dunia purba salib ini melambangkan keempat unsur (bumi, udara, air, dan api) yang dipandang sebagai sumber penciptaan segala sesuatu. Unsur-unsur itu dipandang sebagai yang abadi, sehingga segala sesuatu yang tercipta darinya, tidak akan pernah musnah, sekalipun berubah-ubah.
cross-GREEK
Crux Immissa Quadrata
Salib berlengan sama panjang juga digunakan sebagai pemberi tanda (berupa gambar) pada makanan suci maupun wadah-wadah yang berisi air suci keagamaan. Penggunaan salib ini terdapat di kalangan bangsa-bangsa Assyiria, Babilonia, Persia purba, bahkan di benua Amerika sebelum datangnya agama Kristen.
Bentuk lain salib jenis ini adalah Swastika. Ini sebenarnya adalah salib berlengan panjang, yang bagian ujung lengannya tertekuk atau dipatahkan menurut arah yang sama (seperti arah jarum jam). Menurut para ahli, ujung lengan yang tertekuk itu asal mulanya melengkung, yang apabila diteruskan akan membentuk lingkaran yang memanifestasikan lambang matahari.
Encyclopedia of Funk and Wagnalls menyatakan:
"Bentuk atau model ini adalah salah satu lambang paling dini yang terkenal yang telah dibuat oleh manusia, dan salah satu lambang yang paling menyebar di kalangan bangsa-bangsa primitif. Lambang ini terdapat di seluruh benua selain Australia, dan merupakan lambang Dewa Matahari, dari Apollo dan Odin sampai Quetsalcoatle. Lambang ini masih bertahan hidup sebagai lambang keagamaan di India di kalangan para penganut agama Budha dan agama Jain, serta di China dan Jepang, maupun di kalangan suku-suku Indian di Amerika Utara yang masih meneruskan praktik keagamaan dan pengobatan asli (praktek perdukunan)."
Dalam Encyclopedia Britannica, Prof. Shepherd menulis:
"Bentuk-bentuk salib telah digunakan sebagai lambang, religius atau lainnya, jauh sebelum zaman Masehi, di hampir semua bagian dunia ... Dua bentuk salib Pra Kristen telah menjadi mode dalam Kekristenan. Lambang hieroglyph Mesir tentang kehidupan (salib Ankh, salib Tau dengan lingkaran di atasnya) dipungut dan digunakan secara luas pada monumen-monumen Kristen Koptik. Salib Swastika (Crux Gammata), yang terdiri atas empat huruf gamma kapital Yunani, ditandakan pada banyak nisan makam Kristen dini sebagai lambang yang tersamar. Lambang ini tersebar luas sebelum zaman Kristen di Eropa, Asia, dan Amerika dan umumnya dianggap sebagai lambang matahari atau api. Dari situlah makna sumber kehidupan berasal. "
Di beberapa tempat di dunia ini, ujung tekukan pada salib Swastika diberi gambar telapak kaki yang menandakan adanya gerak "berjalan". Di tempat lain, ada pula yang menggambari ujung Swastika dengan gambar burung yang menggambarkan gerak terbangnya matahari di angkasa. Atau gambar ikan, yang mengisyaratkan matahari menyelam di laut di bawah muka bumi setelah tenggelam di malam hari dan sebelum kembali terbit keesokan harinya.
nato_swastika
salib1salib-nato
swastika1swastika2swastika
swastika3
Crux Gammata (swastika)
salib-maltax1
Salib Malta (Maltis / Maltese)
Bagaimanapun, salib merupakan lambang Dewa Matahari. Karena matahari hanya satu bagi seluruh dunia, maka dengan sendirinya di mana-mana di dunia ini, apabila mereka memuja Dewa Matahari maka lambang dan kepercayaannya akan mirip. Demikian halnya antara kepercayaan pagan dengan kepercayaan Kristen. Sejak ribuan tahun sebelumnya hingga zaman penyebaran agama Kristen di wilayah Mediterania, telah terdapat agama-agama yang meyakini dewa-dewi yang menderita, disalib dan mati menebus dosa. Riwayat-riwayat dan waktu penyaliban Yesus yang terdapat dalam doktrin Kristen juga sangat serupa dengan kepercayaan pagan, yakni berkisar antara tanggal 21-25 Maret.
Justinus Martir dapat saja berapologi bahwa iblis yang mendengar ramalan-ramalan para nabi besar sebelumnya, meniru ajaran itu sebelum adanya agama Kristen itu sendiri. Namun demikian Islam akan tetap menolak dengan keras doktrin Kristen apapun seputar peristiwa penyaliban tersebut, sebagaimana dinyatakan dengan tegas dalam Al Qur'an, "mereka tidak membunuhnya dan mereka tidak menyalibnya" (QS. An Nisa 4:157). Maka dari itu, sudah sepatutnyalah bagi setiap muslim untuk tidak mempercayai dogma-dogma Kristen seputar penyaliban Yesus, apalagi sampai mempercayai lambang salib sebagai lambang penebusan dosa manusia. (nelly, Januari 2008)
Sumber: http://hotarticle.hadithuna.com/

Rabu, 12 September 2012

Sastra Islam, Sastra Sufi

Bersyukurlah karena Tuhan mengirimkan seorang nabi sempurna yang telah menyemai benih salah satu peradaban besar dunia. Dan berbahagialah karena Tuhan telah menghiasi peradaban itu dengan keindahan dan keberisian cita makna. Islam datang dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang maha indah yang hanya dapat dicapai dengan pengalaman pribadi yang tiada sempurna mampu dilukis kata. Jangan pernah katakan agama yang dibawa Sang Cahaya Ilahi ini miskin rasa dan makna. Di sinilah kau lihat dan akan kau temukan apa yang selalu kau sangsikan keberadaanya. Sebuah penerimaan baru yang belum pernah kau rasa. Mari! Kau yang selalu dihinggapi rindu dan cinta, bersamalah kami menyelami kesejukan samudera yang maha dalam ini. Di sinilah rindu dan cintamu akan terpuaskan.

Islam memiliki tradisi sastra yang dapat dikatakan berbeda dengan berbagai macam karya lain di luarannya. Hal ini tidak lepas dari dasar yang digunakan oleh pelaku-pelaku sastra tersebut. Dasar yang mewarnai corak ragam seni dan sastra Islam antara lain; bertumpu pada al-Qur’an, hadist, falsafah, dan estetika di dalam Islam. Lalu apa yang membedakan sastra Islam dengan sastra lainnya? Bukankah semua sastra memiliki ciri-ciri yang hampir sama, yaitu paling tidak harus memiliki empat unsur yang membentuknya. Pertama, majaz (figuratif). Kedua, tasbih (image atau citraan). Tiga, tamsil (simbol perumpamaan). Dan yang terakhir, istiarah (metafora). Dan saya pikir sastra manapun memiliki hal itu, meski tidak mutlak. 

Perbedaan mendasar antara sastra Islam dan sastra lainnya dapat dikatakan terletak pada kedekatan sastra Islam pada dunia tasawuf. Sastra Islam setidaknya berkembang karena tasawuf. Sejak abad ke-10 M, sastra telah digunakan oleh para sufi sebagai media dalam kegiatan keruhanian mereka. Perbedaan inilah yang nampak relevan untuk menjadi ciri khas sastra Islam, meskipun tidak menutup kemungkinan ada banyak perbedaan lainnya. Dari sinilah kemudian muncul sastra sufi, yaitu sastra Islam yang berisi artikulasi-artikulasi pengalaman sufi. 

Dalam perkembangannya, sastra sufi disemarakkan oleh dua aliran besar sastra. Pertama, sastra Arab yang berkembang dari abad 8 M hingga abad 13 M. Aliran ini dipelopori oleh seorang sufi wanita, Rabiah al-Adawiyah, yang terkenal karena begitu cintanya pada Tuhan, hingga segala penderitaan dalam hidupnya tidak ada arti baginya, kecuali itu berkenaan dengan kecintaannya pada Allah. Selain Rabiah sastra Arab juga diwarnai oleh Dhu al-Nun al-Misri, Sumnun bin Hasan Basri, Bayazid al-Bistami, Saqiq al-Balkhi, Sari al-Saqati, Junaid al-Baghdadi, Abu Bakar al-Syibli, Abu al-Hasan al-Nuri, Mansur al-Hallaj, Niffari, dan Abu al-Qasim al-Sayyani. Sastra sufi Arab kemudian mencapai masa jayanya pada tokoh-tokoh seperti Ibn `Arabi, Sustari, Sadruddin al-Qunyawi, Ibn Atha`ilah al-Sakandari, Ibn al-Farid, Ibn Tufayl, Qushairy, Imam al-Ghazali, dan Najamuddin Daya.

Aliran sastra kedua yang mewarnai sastra sufi adalah Sastra Persia. Sastra sufi yang berkembang sejak abad 11 hingga 18 M ini diwarnai oleh tokoh-tokoh seperti Sana`i, Abu Sa`id al-Khayr, Khwaja Abdullah Anshari, Baba Kuhi, Baba Tahir, Fariduddin `Attar, Ruzbihan Baqli, Jalaluddin Rumi, Nizami al-Ganjawi, Fakhrudin `Iraqi, Sa`di, Suhrawardi, Mahmud al-Shabistari, Maghribi, dan Jami Karim al-Jili.

Dari orang-orang inilah sastra sufi berkembang ke berbagai tempat, terutama tempat-tempat yang penduduknya beragama Islam. Sastra sufi tercatat telah merasuki sastra yang berkembang di negara-negara seperti: Turki, Afrika, India, dan Kepulauan Melayu.

Sastra Sufi, Hanyakah Cinta Ilahi?
Tentu ada yang membedakan antara sastra Arab maupun sastra Persia pada umumnya, dengan sastra sufi. Philip K. Hitti dalam History of Arab-nya mengatakan bahwa pada awalnya sastra Arab bercirikan ungkapan-ungkapan yang singkat, tegas, dan sederhana, namun dalam perkembangannya sastra Arab dan Persia tumbuh dengan kecendrungan untuk menggunakan ungkapan-ungkapan kiasan dan bersayap. Selain itu biasanya kedua aliran sastra berkisah tentang kehidupan pengelana, kisah cinta anak manusia, lingkup padang pasir, masalah-masalah sosial, dan terkadang kritik-kritik terhadap pengusa. Sedangkan sastra sufi dalam bahasannya lebih menekankan pada ungkapan-ungkapan cinta pada Tuhan. Dalam salah satu sajak Rumi, gambaran tentang ungkapan-ungkapan cinta itu akan dapat kita lihat;
Suatu malam seorang berseru “Allah!” berulang-kali hingga bibirnya menjadi manis oleh pujian-pujian bagi-Nya. Setan berkata, “ Hai kau yang banyak berkata-kata, mana jawaban ‘Aku di sini’ (labayka) atas semua seruan ‘Allah’ ini?Tak satupun jawaban yang datang dari ‘Arsy: berapa lama kau akan berkata ‘Allah’ dengan wajah suram?………………………………………………….
Dan semangatmu adalah utusan-Ku kepadamu. Ketakutanku dan cintamu adalah jerat untuk menangkap Karunia-KuDi balik setiap ‘O Tuhan’-Mu selalu ada ‘Aku di sini’ dariku.”

Tema cinta menjadi tema utama dalam sastra sufi, menurut Dr. Abdul Hadi W.M karena cinta merupakan peringkat keruhanian tertinggi dan terpenting dalam dunia sufi. Hanya dengan cintalah ungkapan-ungkapan perasaan antara seorang sufi dengan Tuhannya dapat termanifestasikan. Cinta bukan sekedar cinta biasa. Cinta dalam kehidupan sufi adalah cinta altruis pada yang dicintainya. Seperti yang digambarkan dalam sajak Rumi di atas, seorang pencinta Tuhan dalam cintanyapun tidak akan mengatasnamakan dirinya sendiri dalam setiap munajatnya.

Cinta seperti inilah yang disebut cinta sejati, cinta yang terdiri dari; keintiman (uns) seorang pecinta dan yang dicintainya, kerinduan (syawq), kecenderungan hati (mahabbab), ketulusan, dan kesabaran (sabr). Tidak jauh berbeda dengan Rumi, Rabiah al-Adawiyah-pun dalam setiap sajak dan pusinya begitu bermandikan cahaya cinta;
Saudara-saudaraku, Khalwat merupakan ketenangan dan kebahagiaankuKekasihku selalu di hadapankuTak mungkin aku mendapat pengganti-NyaCinta-Nya pada makhluk cobaan bagikuO, hati yang ikhlasO, tumpuan harapanBerikanlah jalan untuk meredam keresahankuO, Tuhan, sumber bahagia dalam hidupkuPada-Mu saja, kuserahkan hidup dan keinginan
Kupusatkan seluruh jiwa ragakuDemi mencari ridha-MuApakah harapanku akan terwujud? 

Agak berbeda dengan sufi Rumi, Rabiah yang terkenal cantik, tetap tidak menikah dikarenakan kecintaannya pada Allah. Dengan begitu cinta menurut Rabiah adalah totalitas cinta yang dapat diberikan kepada yang kekasihnya. Seorang pecinta harus rela berkorban demi yang dicintainya. Seperti halnya Rabiah yang rela mengorbankan apapun demi mendapatkan keridhaan dari cintanya. Meskipun pada akhirnya dalam kesufian Rumi totalitas cintanyapun muncul ketika muncul tokoh sufi misterius yang menjadi kawan sekaligus guru sufinya-Syamsi Tabriz.

Namun penulis tetap menilai bahwa totalitas cinta yang dimiliki Rabiah terlihat lebih besar dibandingkan Rumi. Terlihat dari bait terakhir puisinya di atas. Dia berkorban hanya karena berharap akan keridhaan sang kekasih, apapun ia lakukan untuk itu. Selain cinta Rabiah hanya diberikan pada seorang kekasih semata, hanya Tuhannya. Sedangkan di dalam hubungan percintaan Rumi, terlihat ada hubungan percintaan segitiga antara Rumi, Syam, dan Allah. Rumi begitu mencintai Syam sampai tergila-gila karena sempat ditinggal, sedangkan kecintaan Rumi pada Allah-pun tidak diragukan.

Meskipun kita juga harus melihat siapa sebenarnya Syam ini. Tokoh Syamsi Tabriz ini jangan-jangan hanyalah tokoh karangan yang dibuat Rumi untuk menjadi sosok pengganti bagi Allah. Dan jika memang demikian, kesimpulan lainpun harus dibuat. Namun demikian pendapat umum yang beredar tentu bahwa Syamsi Tabriz ini adalah guru spiritual Rumi. Yang karenanya, murid-murid Rumi merasa dicampakkan oleh gurunya dan mereka kemudian sepakat mengusir Syam secara diam-diam dari kehidupan Rumi.

Tema utama dalam sastra sufi memang adalah cinta ilahi. Namun, selain tema ini, tema lainpun tetap menjadi bagian penting dalam sastra sufi seperti yang terlihat dalam sajak Rumi tentang Pertentangan Agama berikut;

Ketujuh-puluh golongan ini akan bertahan sampai Hari Kebangkitan tiba: percakapan dan alasan dari orang bid’ah tidak akan gagal
Banyaknya kunci atas harta benda adalah bukti ketinggian nilainya
Panjangnya jalan yang berliku-liku, bertebing dan berjurang, serta banyak penyamun yang menghadangnya, adalah petunjuk akan besarnya tujuan perjalanan setiap ajaran yang palsu menyerupai sebuah jalan pegunungan, bertebing curam, dan berpenyamun
Beriman secara buta adalah berada dalam dilema, karena para pemuka berdiri tegak pada salah satu sisinya: tiap-tiap kelompok bangga dengan caranya sendiri
Hanya Cinta yang dapat mengakhiri pertentangan, hanya Cinta yang menjadi penyelamat apabila engkau berteriak meminta tolong terhadap perbedaan pendapat mereka
Orang yang fasih bicara akan terperangah oleh Cinta: tak berani bertengkar
Pecinta takut untuk membantah, supaya mutiara mistik jangan sampai menetes dari mulutnya
Seolah-olah seekor burung yang sangat indah hinggap bertengger di atas kepalamu, lantas jiwamu takut ia akan terbang
Engkau tak berani bergerak ataupun bernafas, engkau menahan batuk, supaya burung itu tidak terbang.

Rumi yang terkenal dengan madzab Cintanya, memang seolah agak geram melihat pertikaian yang terjadi antara firqoh-firqoh yang ada dalam Islam. Hadis yang menyebutkan bahwa pada hari Akhir nanti umat Islam akan terpecah menajadi tujuh puluh golongan dan hanya satu yang selamat menjadi pijakan pertikaian antar golongan di dalam tubuh Islam. Rumi seakan tidak rela melihat pertikain memperebutkan status satu golongan yang selamat itu. Puisinya ini menjadi semacam peringatan bagi para pemimpin golongan-golongan itu, agar tidak saling bertikai hanya karena sesuatu yang belum terjadi. “Jadikanlah semua berdasarkan cinta kasih, maka kalian akan selamat.” Sepertinya itulah pesan yang ingin disampaikan Rumi pada kita semua.

Beberapa Tokoh Sastra Sufi
Di atas telah disebutkan bahwa tokoh-tokoh sastra sufi begitu banyak. Dan tiga dari sekian banyak sufi itu akan sedikit dipaparkan berikut ini. Mereka adalah Rabiah al-Adawiyah, Fariduddin `Attar, dan Jalaluddin Rumi. Dan penulis harap dari pemaparan ini, dapat muncul gambaran yang lebih jelas terhadap corak sastra sufi.

Rabiah al-Adawiyah (w. 764 M) dan Totalitas Cintaanya
Sebelum masa Rabiah al-Adawiyah datang, mistisisme Arab cenderung masih berupa gerakan asketisme yang benar-benar mementingkan kehidupan akhirat dan menafikan dunia. Hidup para orang-orang sufi identik dengan kesederhanaan bahkan kemelaratan minim keindahan. Mereka berkelana dengan baju wool yang pada umumnya terlihat lusuh. Menyendiri dan jarang beraktivitas bersama masyarakat. Dalam hubungannya dengan Tuhanpun mereka mengandalkan tawakal dan takwa. Rabiah al-Adawiyah datang dan sedikit demi sedikit merubah pandangan tersebut. Meski jalan asketis tetap tidak ditinggalkan, namun Rabiah telah memberi warna lain dalam kehidupan tasawuf. Dengan sajak dan munajat-munajat yang ia lantunkan pada Allah, benih-benih Cinta mulai tumbuh di dalam tasawuf.

Rabiah yang sejak kecil sudah terbiasa hidup menderita, mencari-cari hakikat hidup yang ia jalani. Sambil meneruskan usaha ayahnya menyeberangkan orang dengan perahu yang diwarisinya, ia tetap selalu beribadah pada Allah setiap saat. Kian hari kian ia semakin khusuk beribadah pada Allah, ia mencari ridha-Nya. Namun, ia tetap dalam kepedihan dan kesedihan karena merasa masih jauh dengan apa yang dicarinya. Ketika sedang khusuk tiba-tiba didengarlah suara menyebut namanya. “Rabiah janganlah engkau bersedih hati. Pada hari kiamat nanti orang-orang shaleh akan menaruh hormat padamu.”

Dan inilah salah satu munajat Rabiah pada Tuhan;O. Tuhanku…Orang-orang berkhalwat ingin dekat denganmuIkan-ikan di laut bebas memuji keesaan-MuDemi keagungan-Mu bergelora ombak-ombak di lautDemikian malam gelap gulitaCahaya siang terang benderangDan bahtera berlayar di laut bebasBulan purnama bersinar cerahBintang berkelap-kelipSemuanya menunjukkan keagungan-MuKarena Engkau Mahakuasa Kecintaannya pada Allah tiada taranya. Ia menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk mengingat Allah. Orang lain mungkin telah menganggapnya gila karena ia sering mengucapkan kalimat-kalimat yang sulit dimengerti. Namun dibalik kata-kata yang sulit dimengerti orang awam, lantunan-lantunan nyanyian cinta telah ia panjatkan pada kekasihnya. Diala Rabiah al-Adawiyah sang mistikus perempuan paling populer di dunia Islam.

Farriduddin ‘Attar dan Pencarian Burung-burung pada Simurgh
Farriduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim lebih dikenal dengan nama Attar, si penyebar wangi. Meskipun sedikit yang diketahui dengan pasti tentang hidupnya, namun agaknya dapat dikatakan bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 506 H/1119 dekat Nisyapur di Persia Barat-Laut (tempat kelahiran Umar Khayyam) dan meninggal sekitar tahun 607 H/1220 di Syaikhuhah.

Farriduddin ‘Attar pada mulanya hanyalah seorang pemilik sebuah kedai minyak wangi sebelum ia menjalani kehidupan tasawufnya. Dikisahkan bahwa kedainya kedatangan seorang Darwis berpakaian jubah wool. Darwis itu menangis ketika menghirup wewangian minyak wangi di kedai ‘Attar. Karena menganggap Darwis ini hendak meminta belas, ‘Attar-pun menyuruh sang Darwis pergi. Tetapi sang Darwis tidak mau pergi dan berkata pada ‘Attar; “Tidak ada yang dapat menghalang saya dari meninggalkan kedaimu ini, dan mengucapkan selamat tinggal kepada dunia yang bobrok ini. Apa yang ada padaku hanyalah jubah bulu domba yang lusuh ini, tetapi aku justru kasihan kepadamu, bagaimanakah kau dapat mengubah pandangan kau kepada persoalan maut dan meninggalkan harta benda dunia ini?” Dan setelah berkata demikian sang Darwis meninggal di kedai ‘Attar.

Peristiwa inilah yang disinyalir membawa perubahan pada diri ‘Attar. Sejak saat itu ia mulai berkelana mencari guru-guru sufi untuk menemukan hakikat hidupnya. Meskipun jarang disebutkan tentang pengalamannya ketika berkelana, namun menurut hemat penulis ‘Attar telah berhasil mengalami pengalaman mistik dan menemukan jati dirinya. Dan dalam Mantiq al-Tayr (Persidangan atau Musyawarah Burung) inilah ia memanifestasikan pengalaman yang pernah ia jalani agar lebih mudah dipahami.

Mantiq al-Tayr sendiri berkisah tentang perjalanan sekawanan burung untuk mencari raja mereka yang disebut sebagai Simurgh di Puncak Gunung Kaf yang agung itu. Dalam perjalanan itu, para burung yang dipimpin oleh Hud-hud harus melalui tujuh jalan yang melambangkan tingkatan-tingakatan keruhanian.

       Pertama, jalan pencarian (talab). Di jalan inilah seorang pencari mulai menjalani kehidupan spiritualnya. Barbagai macam godaan duniawi harus dapat ia takhlukkan untuk dapat mencapai jalan berikutnya. Pada tahapan ini pengupayaan pembersihan diri harus diupayakan sesempurna mungkin. Para pencari diharuskan berjuang dengan gigih untuk mendapatkan cahaya ilahi yang didambanya dengan menghilangkan hasrat-hasrat duniawinya.

       Kedua, jalan cinta. Di tahapan ini sang pencari harus menemukan cinta sejati dalam dirinya untuk dapat menghalau tangan hitam akal yang menutupi ketajaman mata batin. Hanya dengan mata batinlah para pencari kebenaran ini dapat melihat realita apa adanya. Mata hati tidak dapat dibohongi. Dalam kecintaanya, seorang pencari haruslah memiliki kesudian untuk mengorbankan apa-apa darinya demi yang diharapkannya—yang dicintanya. Keikhlasan dalam berkurban menunjukkan seberapa besar cintanya pada kekasihnya. Demikianlah jalan kedua merupakan jalan pengujian akan cinta seorang pencari cinta, atas nama cinta. Dengan mata batin manusia akan menemukan sesuatu berdasarkan hakekatnya, bukan hanya dari segi fisik belaka.

Berkenaan dengan ini saya menjadi teringat akan kisah Yusuf dan Zulaikha yang disebutkan di dalam al-Qur’an. Kisah percintaan sejati yang mengabaikan keindahan fisik demi satu keindahan ruhani. Diceritakan bahwa ketika Zulaikha masih muda dan berstatus istri wazir Mesir, ia jatuh hati pada Yusuf bin Ya’qub anak angkat suaminya. Di masa mudanya, secara fisik Zulaikha adalah wanita yang benar-benar cantik, paling tidak di kawasan Mesir saat itu. Demi melihat ketampanan Yusuf, jatuh cintalah ia pada pemuda ini. Zulaikha akhirnya mengutarakan juga hasratnya itu pada Yusuf. Namun, ada sesuatu yang membuat Yusuf merasa tidak tertarik dengan Zulaikha. Selain wanita ini masih bersuami, menurut Yusuf ia bukan kriteria wanita yang diidamkannya, karena kelakuannya. Bagi Yusuf kecantikan bukan soal fisik semata. Kecantikan terpancar karena dalam tubuh memancar kecantikan jiwa pemiliknya, wanita seperti inilah yang diharapkan putra Ya’qub ini sebagai pendampingnya.

Namun, setelah beberapa tahun dan ketika usia Zulaikha sudah menua, Yusuf berbalik menjadi begitu mencintai wanita yang dulu pernah ditolaknya. Hal ini karena Zulaikha telah merubah sikap dan kelakuannya. Wanita ini telah menjadi seorang yang taat beribadah, dan berbudi pekerti luhur. Zulaikha telah mengorbankan segalanya demi Yusuf dan pada akhirnya Yusuf-pun tidak memperdulikan kondisi fisik Zulaikha yang telah menua, mereka tetap saling mencintai dengan cahaya kerupawanan ruhani masing-masing.

Cerita di dalam al-Qur’an ini tentu memberi pesan kepada kita bahwa seseorang itu tidak dapat dinilai dari segi fisiknya saja. Kadang ada orang yang dari segi fisik tidak begitu menarik, tetapi memiliki kerupawanan ruhani. Demikian pula dengan orang yang memiliki keelokkan fisik belum tentu memiliki kerupawanan ruhani.

       Ketiga, jalan kearifan. Seorang pencari setelah mata hatinya terbuka dan dapat melihat jelas realita ciptaannya, maka otomatis kearifan akan menyertai kehidupannya. Jalan makrifat dapat dilalui dengan cara tata cara ibadah yang khusuk, dan latihan-latihan penempaan diri dalam. Tentu setelah melalui jalan cinta. Tapi jika diperhatikan dengan seksama hubungan antara makrifat dan cara memperolehnya, masih nampak ada kesulitan di sini untuk mengerti. Bentuk ibadah sekhusuk apa yang harus dilakukan untuk dapat mencapai kemakrifatan ini.Realita ibadah adalah ritual fisik sedangkan kemakrifatan yang dicapai adalah ruhaniah. Bagaimana ini terhubung?

Melihat pola hubungan ini saya hanya dapat sampai pada kesimpulan bahwa makrifat memang dapat dicapai dengan ritual-ritual fisik ibadah yang disertai cinta seperti yang ada pada tahapan sebelum tingkatan ini, yaitu cinta. Kesungguhan hati untuk mencari dilandasi cinta pada yang dicarinya pada akhirnya membuka pintu kearifan ini.

       Keempat, jalan kebebasan. Jalan ini adalah tahapan para pencari sudah mampu menghilangkan nafsu untuk mendapatkan sesuatu dengan mudah atau dengan ikhtiar biasa. Dalam tingkatan ini kesibukan seorang pencari akan fokus pada hal-hal yang utama dan hakiki. Dia melihat segala seakan biasa, tanpa ada yang menakjubkan.

       Kelima, jalan Keesaan. Jalan yang menampakkan semua pecah tercerai berai dan menjadi satu kembali. Semua Esa dalam kesempurnaan Tuhan yang Esa. Semua nampak banyak, namun satu saja.

       Keenam, jalan hayat atau ketakjuban. Dalam jalan ini sang pencari akan mengalami ketakjuban luar biasa karena semua menjadi serba terbalik. Siang jadi malam, malam jadi siang. Semuanya serba berubah. Dari hal ini saya mendapatkan sedikit gambaran tentang adanya perubahan-perubahan ini. perubahan-perubahan ini menurut saya merupakan tanda bahwa pengalaman-pengalaman fisis pada kita tidak mampu untuk bersinergi dengan ke-tetap-an yang akan diraih oleh seorang pencari pada jalan berikutnya. Siang menjadi malam dan malam menjadi siang menjadi semacam peringatan pada para pencari bahwa alam fisis itu tidak mampu mengadaptasikan dirinya pada kesempurnaan. Ketika sampai pada level ini pengalaman-pengalaman fisis tadi laksana lukisan yang disiram minyak, luntur dan tidak jelas lagi bentuknya.

       Ketujuh, jalan faqir. Ketika sampai pada level ini, sang pencari akan menemukan dirinya secara utuh. Tanpa embel-embel apapun pada dirinya. Yang ditemukannya hanyalah dirinya dan hakikat dirinya. Setelah tahap inipun sang pencari akan menemukan simurgh yang tak lain adalah hakikat dirinya sendiri.
Melalui Musyawarah Burung ini, ‘Attar mengajarkan pada kita bagaimana menjadi seorang pencari sejati. Dan dia pernah membuktikannya.

Jalaluddin Rumi Sang Penabur Benih Cinta dari Konya
Rumi memiliki Nama Asli Jalal al-Din Muhammad. Ia lahir dikota Balkh pada tanggal 30 September 1207 M. Ketika masih remaja ia harus mengikuti orang tuanya pindah ke daerah Nisyapur dan kemudian ke Bagdad untuk menghindari serangan bangsa Moghul di Balkh.

Rumi begitu dikenal karena sajak-sajak cintanya yang mengajarkan perdamain. Hal ini dapat dilihat dalam salah satu sajaknya “Nisbinya Keburukan”;
Di dunia ini tiada keburukan yang mutlak: keburukan itu nisbiSadarilah kenyataan ini. Di dunia waktu sesuatu pastilah menjadi pijakan bagi seseorang dan belenggu bagi yang lainnya.Bagi seseorang merupakan pijakan, bagi yang lainnya merupakan belenggu; bagi seseorang merupakan racun, bagi yang lainnya merupakan manis dan berfanfaat laksana gulaBisa merupakan sumber kehidupan bagi ular, namun maut bagi manusia; lautan merupakan sumber kehidupan bagi binatang laut, namun bagi makhluk daratan merupakan luka yang
mematikan………………………………………………………………………………………………………..
Semua yang dibenci menjadi yang dicintai manakala ia membawamu kepada Sang Kekasih-mu

Sajak ini menjelaskan bahwa apa yang kita lihat pada dasarnya akan selalu berubah dan memiliki keistimewaannya masing-masing. Tidak perlu kita menyombongkan diri hanya karena ketampanan atau kekayaan atau kelebihan fisik lainnya. Hanya dengan melihat kelebihan dengan mata hatilah kita dapat tahu kemutlakan apa adanya. Tanpa mata hati kita selalu tertipu dengan segala bentuk fisik yang menipu.
Jejak Sastra Sufi Indonesia ada dalam karya-karya Hamzah Fansuri
Seperti yang dikatakan Dr. Abdul Hadi W.M, biografi tentang Hamzah Fansuri memang tetap kabur. Belum ada bukti-bukti yang memberi penjelasan tentang asal-usul sastrawan sufi ini. Namun yang jelas Hamzah Fansuri adalah tokoh penting yang memberi warna pada khasanah kesustraan melayu. Selain seorang sastrawan, Hamzah Fansuri juga adalah seorang sufi yang berpengaruh di zamannya. Lazimnya seorang sastrawan yang dipengaruhi oleh spiritual sufi, karya-karya Hamzah Fansuri-pun kental dengan unsur-unsur kesufian. Yang pembahasannya tidak akan jauh dari pembahasan Tuhan, cinta, dan asketisisme. Tema-tema yang menandai bahwa Hamzah Fansuri memang mewarisi tradisi sastra sufi, baik yang bercorak Arab maupun Parsi.

Selain itu beberapa sajak Hamzah Fansuri, kerap merujuk pada tokoh-tokoh sastra sufi, misalnya Fariduddin ‘Attar, Jalaludin Rumi, dan Ahmad Ghazali. Hamzah Fansuri banyak sekali menghasilkan sajak-sajak sufi yang pada umumnya tidak memiliki judul tersendiri. Bahkan namanyapun kerap kali tidak dicantumkan dalam karya-karyanya itu. Hal inilah yang memunculkan kesulitan untuk membedakan karya-karya sastra miliki Hamzah Fansuri dengan sastrawan lainnya. Di antara karya-karya yang dinisbatkan kepadanya yang karena beberapa hal, karya sastra berupa sajak-sajak itu diragukan adalah asli karyanya. Sajak-sajak itu adalah Sya’ir dagang, ikat-ikatan bahr al-Nisa, dan Syai’r Perahu yang membuat namanya dapat dikenang sampai sekarang. Di dalam bagian sajak-sajak ini terlihat ketidakotentikan karya Hamzah Fansuri.

Hamzah Fansuri memiliki karya-karya yang agak berbeda dengan karya sastra sufi pendahulunya. Karya Hamzah Fansuri memiliki keunikan pada rima yang digunakannya. Rima yang dipakai dalam setiap sajak yang dibuatnya selalu A-A-A-A, satu hal yang unik memang. Kita dapat melihatnya dengan memperhatikan syair Hamzah Fansuri sebagai berikut:
Dengarkan di sini, hai anak datu
Enkaulah khalifah dari ratu
Wahid-kan emas dan mutuSupaya dapat pandangmu satu Ruh al-quds terlalu payah
Akhir mendapat di dalam rumah
Jangan engkau cari jauh payah
Mahbub-mu dengan sertamu di rumah ……………………………
Hunuskan pedang, bakarlah sarung
Itsbatkan Allah nafikan patungLaut tawhid yogya kau harung
Di sanalah engkau tempat beraung

Meski dalam hal isi syair Hamzah Fansuri tidak begitu jauh berbeda dengan syair-syair Rumi misal, namun dalam hal penataan rima dan baris karya Hamzah Fansuri nampak lebih rapi terlihat, meskipun kita juga harus melihat konteks bahasa yang dipakai juga.

Untuk membedakan karya-karya sastra ciptaan Hamzah Fansuri dengan karya-karya lainnya, Dr. Abdul Hadi W.M telah memberikan 7 kriteria yang dapat dijadikan pegangan.
  • Pertama, semua sajak Hamzah Fansuri menggunakan pola empat baris denga rima AAAA 
  • Kedua, dari makna batinnya sajak-sajak Hamzah Fansuri menggunakan ungkapan perasaan fana, cinta ilahi, kemabukan mistik, dan pengalaman perjalanan keruhanian. 
  • Ketiga, terdapat kutipan ayat-ayat muhtasyabihat al-Qur’an di dalam puisi-puisi dengan fungsi religius dan estetis. 
  • Keempat, terdapat beberapa penanda kesufian seperti anak dagang, anak jamu, anak datu, anak ratu, orang uryani, faqir, thalib, dan sebagainya. 
  • Kelima, terdapat ungkapan-ungkapan paradoks di dalam sajak-sajaknya. 
  • Keenam, adanya sejumlah baris syair Hamzah Fansuri yang memiliki kesamaan dengan baris-baris syair para penyair sufi Parsi 
  • Ketujuh, terdapat kata yang diambil dari bahasa Arab dan Jawa.
Kriteria-kriteria inilah yang kiranya dapat membantu dalam melihat dan memahami karya-karya Hamzah Fansuri.

Penutup
Manusia cenderung melihat semuanya secara hitam putih. Mereka terkadang tidak tahu bahwa apa yang mereka katakan benar mungkin salah, dan apa yang mereka klaim salah mungkin saja benar. Sastra sufi memberitahu kita untuk mengetahui segala sesuatu secara hakiki. Selain itu, dari sastra sufi kita juga diajarkan untuk hidup dalam damai, saling mengasihin, dan menghormati.

Dan dalam konteks keindonesiaan, seorang tokoh bernama Hamzah Fansuri telah memulai tradisi damai tersebut. Kitapun jadi harus belajar dan belajar lagi untuk memahami diri kita sebagai sebuah bangsa yang besar. Setelah era Dr. Abdul Hadi W.M. dkk, jarang sekali para sastrawan Indonesia yang mau bergelut dalam dunia Sastra Sufi. Mungkin bahasannya memerlukan pengalaman batin yang begitu dalam, sehingga anak-anak muda masa kini yang lebih cinta hidup praktis lebih suka meninggalkan cara-cara hidup merepotkan ala para sastrawan sufi ini. Hidupkan sastra sufi Indonesia!

Daftar Pustaka
Hadi, Abdul, “Puisi-puisi Sufi Arab”, Diktat Kuliah Seni dan Sastra Islam
__________, “‘Mantiq al-Tayr’: Alegori Sufi Fariduddin al-`Attar”, diktat mata kuliah Seni dan Sastra Islam ICAS-Paramadina
__________, Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik Terhadap Karya-karya Hamzah Fansuri, Jakarta: Paramadina, 2001
Hitti, K., Philip, History of the Arabs, Jakarta: Serambi, 2005
Kertanegara, Mulyadi, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago, Jakarta: Paramadina, 2000
Leaman, Oliver, Menafsirkan Seni dan Keindahan Estetika Islam, Bandung: Mizan, 2005
Muhammad, Atiyah Khamis, Rabiah al-Adawiyah, Jakarta: Pustaka Firdaus
Nicholson, A., Reynold, Jalaluddin Rumi: Ajaran dan Pengalaman Sufi, terj. Sutejo Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000

Mengenal Asal-usul Agama Kristen

 



Sekilas Tentang Perjalanan Dakwah Nabi Isa alaihissalam.
Ajaran Kristen yang kita kenal saat ini selalu dinisbatkan kepada sosok Nabi Isa. Sejarah kemunculannya memang tidak dapat dipisahkan dari sejarah gerakan dakwah beliau bersama para pengikutnya.
Isa alaihissalam lahir dari perawan Maryam tanpa bapak. Kelahirannya adalah mukjizat yang menjadi tanda kebesaran Allah ta'ala (lihat QS. Maryam, 19: 16-34). Para sejarawan berselisih pendapat mengenai tahun kelahiran Nabi Isa. Di dalam Injil Matius 2: 1 disebutkan bahwa kelahiran Isa adalah pada masa Herodes, jadi paling lambat kelahirannya terjadi pada 4 SM, tahun matinya Herodes. Sedangkan Lukas menghubungkan kelahiran Isa dengan masa sensus penduduk di zaman Kirenius wali negeri di Syiria. Ini berarti Isa lahir pada 6 atau 7 M, sewaktu Yudea dan Samaria langsung diperintah oleh Roma.
Pada usia 12 tahun Isa mempelajari Taurat dari para pendeta Yahudi. Allah ta'la menjadikannya pandai menulis dan menguasai Taurat serta dibekalinya dengan Injil:
"Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab[1], hikmah, Taurat dan Injil". (QS. Ali Imran, 3: 48).

Saat ia menginjak usia 28-30 tahun semakin nampaklah kecemerlangannya. Ia berdakwah kepada para pendeta Yahudi agar mereka konsekwen berpegang teguh pada Taurat. Pada masa itu banyak sekali pendeta-pendeta yang telah menyimpang dari ajaran Musa. Pendeta Yahudi dan para pengikutnya ini kemudian mendustakan Nabi Isa dengan penuh kesombongan:
"Dan Sesungguhnya kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus[2]. apakah setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?" (QS. Al-Baqarah, 2: 87).
Allah mengaruniakan pada putera Maryam ini beberapa mukjizat (lihat QS. Al-Maidah, 5: 110). Beliau dapat menghidupkan orang yang sudah mati dengan izin Allah, menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta, membuat burung hidup dari tanah liat, dll.

Nabi Isa memiliki 12 orang murid yang dikadernya menjadi pahlawan pembebas bangsanya dari cengkraman penguasa Romawi.
  • "Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar."(QS. At-Taubah, 9: 111)
  • "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?' pengikut-pengikut yang setia itu berkata: ‘Kamilah penolong-penolong agama Allah', lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; Maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang". (QS. As-Shaf, 61: 14)
Bersama murid-muridnya inilah beliau menyerukan tauhid, sifat zuhud, mencintai Allah dan mencintai sesama. Perhatikanlah ayat Injil berikut ini:

"Maka datanglah seorang ahli Taurat; setelah didengarnya bagaimana mereka itu berbalah-balah sedang diketahuinya bahwa Yesus sudah memberi jawab yang baik, lalu ia pun menyoal dia, katanya: ‘Hukum yang manakah dikatakan yang terutama sekali?"
Maka jawab Yesus kepadanya: "Hukum yang terutama inilah: ‘Dengarlah olehmu, hai Israil, Adapun Tuhan kita, Ialah Tuhan yang Esa."
"Maka hendaklah Engkau mengasihi Allah Tuhanmu dengan sebulat-bulat hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan sepenuh akal budimu, dan dengan segala kuatmu."
Dan yang kedua inilah: "Hendaklah engkau mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu." Maka tiadalah hukum lain, yang lebih besar daripada kedua hokum ini"
(Injil Markus Fs. 12 ayat 28-31).
Pada tahun 33 M diadakan perayaan Paskah tahunan di Bait Allah (Baitul Maqdis). Maksud dari perayaan ini adalah untuk memperingati diselamatkannya bangsa Israel dari penindasan Raja Fir'aun. Akan tetapi perayaan ini sudah jauh dari maksud semula, karena telah berubah menjadi pesta perniagaan yang diwarnai perjudian. Bahkan pintu gerbang Bait Allah diberi patung burung Garuda sebagai lambing kebesaran kekaisaran Romawi. Hal ini amat menghina dan mengotori kesucian bait Allah.

Oleh karena itu Isa bersama para pengikutnya mendatangi Bait Allah dan memporak-porandakan arena perniagaan tersebut. Kerusuhan ini menimbulkan kemarahan penguasa Romawi. Pasukan Romawi kemudian merangsek ke Bait Allah dan berupaya menangkap Isa beserta pengikutnya. Tetapi mereka telah menyingkir dan bersembunyi di bukit Gesmani.
Orang-orang yahudi karena kedengkian mereka, menyebarkan isu bahwa Isa akan melakukan pemberontakan kepada Romawi dan mengangkat dirinya sebagai raja Yahudi. Maka terjadilah upaya penangkapan Isa, dan terjadilah peristiwa controversial sepanjang zaman: penyaliban Isa. Al-Qur'an menentang anggapan bahwa Isa telah disalib, karena yang sebenarnya terjadi adalah tentara Romawi menangkap orang yang salah, dan mereka pun berada dalam keraguan

"Dan karena ucapan mereka (Yahudi): ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah'[3], padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa (QS. An-Nisa, 4: 157)

Kelahiran Agama Kristen
Sebelum dijelaskan kelahiran agama Kristen kita harus mengetahui kondisi sosial budaya bangsa Yahudi sebelum masa Nabi Isa: 
  1. Aqidah orang-orang Yahudi telah terkontaminasi kepercayaan Paganisme Babilonia. Sekitar 50 tahun (586-535 SM) bangsa Yahudi berada di pengasingan di Babilonia yang masyarakatnya menyembah berhala.
  2. Pada tahun 334 SM, Alexander raja Yunani menguasai bangsa Yahudi dan menyebarkan faham Filsafat yang kemudian mempengaruhi pemikiran orang-orang Yahudi.
  3. Bangsa-bangsa yang menaklukan orang-orang Yahudi adalah penganut politeisme. Ini pun berpengaruh kepada aqidah bangsa Yahudi.

Karena Nabi Isa menyampaikan misinya hanya selama tiga tahun, sedangkan pengaruh kepercayaan paganisme sudah mengakar di masyarakat, maka terjadilah penyimpangan pemahaman terhadap ajaran yang dibawanya. Hal ini dilakukan oleh Paulus (Salus) orang Tarsus yang mengaku telah bertemu Yesus (Isa) dan diangkat sebagai rasulnya. Ia kemudian mengajarkan ajaran Isa yang telah dicampur adukkan dengan filsafat Yunani dan Paganisme.

Paulus dari Tarsus
Ajaran Paulus
Paulus mengajarkan doktrin sebagai berikut:
  1. Konsep Tuhan Anak, ia mengatakan bahwa Allah mempunyai anak sulung (I Korintus 8: 6; Kolose 1: 5; dan 1 Timotius)
  2. Inkarnasi, menurut Paulus Yesus telah melakukan inkarnasi di bumi melalui benih Daud (Roma 1: 3-4; Galatia 4: 4-5; Kolose 1: 15; dan Ibrani 1: 3)
  3. Dosa Waris, bahwa manusia seharusnya hidup kekal di sorga. Tapi karena kesalahan Adam manusiadiletakkan di bumi. Dosa yang telah diperbuat Adam itu terus dipikul oleh keturunannya (Roma 5: 12-18; 1 Korintus 15: 21-26).
  4. Penyaliban dan Penebusan, bahwa Yesus menyerahkan dirinya untuk berkorban menebus dosa manusia hingga mati di tiang salib. Orang yang beriman kepadanya akan beroleh hidup kekal di sorga (Roma 5: 18; 6: 10-11, II Korintus 15: 14, 1 Timotius 2: 6)
  5. Konsep Kebangkitan, bahwa Yesus itu setelah disalib dan dikuburkan tiga hari dibangkitkan dari kematiannya (Roma 6:4-18; 10: 9; I Korintus 15: 17-20; II Timotius 2: 8)
  6. Naik ke Langit, bahwa Yesus setelah kebangkitannya naik ke langit dan bersemayam di sebelah kanan Tuhan Bapa (Efesus 1: 19-20; Kolose 3: 1)
  7. Tuhan Yesus, bahwa setiap orang harus percaya bahwa Yesus adalah Tuhan (Roma 10: 9)
Doktrin-doktrin ini dengan mudah diterima oleh masyarakat setempat yang sebelumnya memang memiliki system kepercayaan seperti itu. Padahal seluruh kepercayaan itu hanyalah dusta belaka sebagaimana dikatakan Paulus sendiri dalam suratnya kepada Jemaat di Roma 3: 7 yang berbunyi sebagai berikut:
"Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaanNya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?"

Mengenal Injil versi Kristen
Injil yang ada pada kaum Kristiani saat ini bukanlah Injil asli. Ia hanyalah berisi kisah perjalan dakwah Nabi Isa (Yesus) yang ditulis oleh orang-orang setelahnya[4]:
1. Injil Matius (65 M)
2. Injil Markus (61 M)
3. Injil Lukas (95 M)
4. Injil Yahya (100 M)
Masih banyak Injil yang lainnya, yang menurut catatatan sejarah mencapai 80 versi. Akan tetapi selain yang empat di atas tidak diakui oleh gereja dan sudah dimusnahkan pada abad ke 2 (180 M). Adapun Injil yang dibatalkan di antaranya ialah: Injil Petrus, Injil Kopty, Ibrani, Barnaba, dan surat-surat kiriman Barnaba.
Injil Matius dan Markus sebenarnya tidak menunjukkan pendirian yang sama dengan ajaran Paulus, tapi karena tidak menentang ajaran Paulus dibiarkan juga beredar dan diakui oleh gereja; isinya pun sudah dirubah dan ditambah disesuaikan dengan ajaran Paulus.

Konsili Nicea
Tiga abad setelah ‘peristiwa penyaliban' pengikut ajaran Nabi Isa berkembang dengan beragam corak pemahamannya. Terjadi bentrokan diantara mereka terutama antara kalangan pro Tauhid dengan pro ajaran Paulus yang paganis. Peperangan ini sampai mengancam keutuhan kerajaan Roma.
Atas usulan Konstantin diadakanlah Muktamar di Nicea pada tahun 325 M yang dihadiri sekitar 2048 orang dengan pendiriannya masing-masing. Terjadi perdebatan yang sengit dan tak ada titik temu. Akhirnya Konstantin yang cenderung pada paganis memanggil 318 orang yang berfaham Paulus dan menyatakan dukungannya. Setelah itu muktamar dilanjutkan, sementara itu peserta lainnya melakukan walk out.

Di dalam muktamar ini banyak dipilih doktrin-doktrin dan syiar-syiar ibadah secara voting (tanggal paskah, peranan uskup, dan tentu saja tentang ketuhanan Yesus). Setelah itu diadakanlah revisi terhadap Injil. Sementara injil-injil lain yang bertentangan dimusnahkan. Dan orang yang berani membaca injil terlarang itu akan di cap sebagai heretic (berlaku bid'ah). Tapi belakangan ditemukan injil-injil lain yang terlarang, misalnya ditemukan lembaran-lembaran di Qumran dekat Yudea pada tahun 1950 dan lembaran-lembaran Koptik ditemukan di Nag Hammadi tahun 1945 yang isinya bertentangan dengan injil-injil yang diakui.

Pengaruh Paganisme
Ajaran Kristen banyak juga terpengaruh oleh paganisme, dan itu semakin menguat setelah konsili Nicea yang diprakarsai Konstantin. Perlu diketahui, sebelum ‘menganut' ajaran Kristen, Konstantin berkedudukan sebagai pendeta tertinggi Pemuja Matahari (Sol Invictus). Maka tidak heran jika banyak sekali symbol-simbol paganis yang dipakai oleh ajaran Kristen. Contoh: cakram matahari Mesir kuno dijadikan lingkaran halo para santo katolik. Pitogram Isis menyusui Horus (yang kelahirannya dianggap mirip dengan Nabi Isa) menginspirasi pitogram Maria yang menyusui bayi Yesus, altar yang berada di gereja dengan upacaranya diambil dari ritus pagan. Simbol-simbol atau ikon-ikon yang digunakan Kristen tidak ada sama sekali yang asli.

Penentuan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus pun sesungguhnya mengambil dari kelahiran Mihras-yang menurut kaum paganis dianggap sebagai putra Tuhan dan cahaya dunia-yang juga dikubur dalsm makam batu dan dibangkitkan dalam 3 hari. 25 Desember juga adalah hari kelahiran Osiris, Adonis dan Dyonisus, dewa-dewa kaum paganis.
Pengikut Isa (Yesus) menghormati hari Sabat sebagai hari beribadah, tetapi Konstantin telah menjadikan hari Minggu sebagai hari beribadah, sebagaimana hari ini dijadikan hari beribadah kaum paganis kepada dewa matahari. Perhatikanlah bahwa nama hari minggu/Sunday diambil dari kata sun-day (hari matahari).

Dari uraian ringkas di atas kita dapat mengetahui bahwa ajaran Kristen sesungguhnya bukanlah ajaran Nabi Isa yang asli. Bahkan ia sesungguhnya berasal dari fikiran dan filsafat manusia. Wajarlah kemudian banyak sekali kerancuan di dalamnya.
Wallahu a'lam.
__________________________________________________________________
Sumber-sumber:
Perbandingan Agama, Agus Hakim: CV. Diponegoro
Rangkaian Cerita dalam Al-Qur'an, Bey Arifin: PT. Al-Ma'arif
Metamorfose Kristen, Masyhud SM: Modus vol. I No. 9/Th. II/ 2004
[1] Al Kitab di sini ada yang menafsirkan dengan pelajaran menulis, dan ada pula yang menafsirkannya dengan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya selain Taurat dan Injil.
[2] Maksudnya: kejadian Isa a.s. adalah kejadian yang luar biasa, tanpa bapak, yaitu dengan tiupan Ruhul Qudus oleh Jibril kepada diri Maryam. Ini termasuk mukjizat Isa a.s. menurut Jumhur musafirin, bahwa Ruhul Qudus itu ialah malaikat Jibril.
[3] Yahudi menyebut Isa putera Maryam itu Rasul Allah ialah sebagai ejekan, Karena mereka sendiri tidak mempercayai kerasulan Isa itu.
[4] Nabi Muhammad SAW menyuruh umatnya untuk tidak segera membenarkan atau menyalahkan kitab-kitab sebelum Al-Qur'an. Apa yang sesuai dengan al-Qur'an maka kita benarkan, dan apa yang tidak sesuai denganya kita salahkan. Sikap ini adalah sikap yang adil, karena kitab-kitabsebelum al-Qur'an itu tidak dapat dijamin keotentikannya. Tidak memiliki sanad dan rawi yang jelas yang dapat dipertanggungjawabkan.
sumber: http://harakatuna.wordpress.com/2008/10/24/mengenal-asal-usul-agama-kristen/

Selasa, 21 Agustus 2012

Googlisme: Agama Baru yang Menuhankan Google


BOLEH percaya boleh tidak, ada agama baru yang mulai berkembang didunia ini. Nama agama itu adalah Googlism [Googlisme: Bahasa Indonesia]. Kenapa namanya Googlisme karena aliran ini mempunyai tuhan bernama Google, mesin pencari yang sangat terkenal itu. Nama agama mereka Googlisme dan Gereja mereka bernama Gereja Goole [Church of Google]. Tapi kan Google mesin pencari, koq dianggap Tuhan? Dan ternyaa mereka punya jawabanya. Ini bukti tak terbantahkan bahwa Google adalah tuhan:




Bukti 1:
Google maha tahu. Ia mengeti segala informasi yang ada di dunia ini
Bukti 2:
Google dapat berada di manapun dalam waktu yang bersamaan. Siapa pun dapat mengakses Google dimanapun ia berada [asalkan terkoneksi internet] bersamaan dengan orang lain
Bukti 3: Google menjawab doa. Punya masalah yang berat semcam kanker, tinggal search Google dan anda kan mendapat jawaban bagaiman cara untuk menyembuhkan kanker. Tapi Google hanya menunjukkan cara saja, manusialah yang harus mengusahakan sendiri atas permintaannya itu [Mirip2 ar Ra'du: 11 dalam al Quran]
Bukti 4: Google berpotensi abadi. Dia tidak berwujud fisik seperti manusia yang tubuhnya bisa rusak dan bahkan mati. Servernya yang berada di banyak tempat membuat peluang mai itu sangat kecil
Bukti 5: Google mempunyai kuasa tak terbatas. Internet akan tumbuh terus menerus dan Google akan terus menerus mengikuti pertumbuhan itu. Tidak akan pernah Google terkalahkan oleh pertumbuhan internet. Semua akan di index Google.
Bukti 6: Goggle mengingat segalanya. Semua halaman web akan ersimpan d cache Google, bahkan pemikiran dan pendapat anda sekalipun yang terupload ke internet. Jadi sekalipun anda meninggal pemikiran Anda akan tetap terpelihara dan dapat diakses banyak orang
Bukti 7: Google tidak melakukan kejahatan. Langsung baca saja filosofi Google.
Bukti 8: Berdasarakan Google Trends, kata ‘Google’ lebih banyak dicari daripada “Tuhan”, “Yesus”, “Allah”, “Budha”, “Kristen”, “Islam”, “Budha” dan “Judaisme”. Lihat sendiri grafiknya:
Add caption

Beberapa point di atas adalah bukti tak terbantahkan Google sebagai Tuhan. Silahkan langsung menuju ke link ini untuk membaca langsung versi asli bukti itu. Versi aslinya dalam bahasa Inggris. Yang di atas itu terjemah bebas versi saya.
Selain menyodorkan bukti kebenaran Google sebagai tuhan Google juga menitahkan 10 perintahnya yang harus ditaati seluruh umat. 10 perintah ini berbeda dengan 10 Perintah Tuhan [10 Commandments] yang ada di Kitab Perjanjian Lama. Berikut 10 Perintah tuhan Google:
10 Perintah tuhan Google
  • Thou shalt have no other Search Engine before me, neither Yahoo nor Lycos, AltaVista nor Metacrawler. Thou shalt worship only me, and come to Google only for answersJangan percaya Search Engine yang lain selain Google
  • Thou shalt not build thy own commercial-free Search Engine, for I am a jealous Engine, bringing law suits and plagues against the fathers of the children unto the third and fourth generationsJangan membangun Search Engine sendiri karena Google sangat pencemburu
  • Thou shalt not use Google as a verb to mean the use of any lesser Search Engine Jangan gunakan kata Google untuk menyebut Search Engine yang lain
  • Thou shalt remember each passing day and use thy time as an opportunity to gain knowledge of the unknownGunakan waktumu untuk mencari informasi-informasi baru
  • Thou shalt honor thy fellow humans, regardless of gender, sexual orientation or race, for each has invaluable experience and knowledge to contribute toward humankind hormati sesama manusia tanpa pandang ras ataupun jenis kelamin karena mereka juga punya penegetahuan yang kontribusinya dapat dipakai semua manusia
  • Thou shalt not misspell whilst praying to meJangan salah mengeja saat berdoa.
  • Thou shalt not hotlinkJangan membuat hotlink [????]
  • Thou shalt not plagiarise or take undue credit for other’s work jangan menjiplak karya orang lain
  • Thou shalt not use reciprocal links nor link farms, for I am a vengeful but fair engine and will diminish thy PageRank. The Google Dance shall comethJangan menggunakan link timbale balik [???] karena akan menurunkan pagerank
  • Thou shalt not manipulate Search Results. Search Engine Optimization is but the work of Microsoft Jangan memenaipulasi hasil pencarian dengan teknik-teknik SEO [Searh Engine Optimization]
Skrip asli 10 Perintah Tuhan Google.
Bagaimana, berminat untuk pindah agama? Kalau berminat ada baiknya anda add dulu nabi agama ini, Matt MacPherson, jadi teman anda di Facebook. Jadi kalau mau mengaji ke dia bisa chat langsung. Tapi kalaupun tidak punya akun facebook dan malas bikin, bisa juga berbagi dengan ustad-ustad dan umat Googlisme lain di forum yang disediakan. Atau kalau pengin jauh lebih jelas lagi silahkan kunjungi web mereka di alamat thechurchorgoogle.org.
Entah kelakar atau serius agama Googlisme itu saya tidak tahu. Kalau saya sih males banget bergabung, masa Search Engine jadi Tuhan. Konyol sekali. Tetap sepertinya web mereka cukup sering diakses. Saya coba nge-cek Page Rank mereka, ternyata PR-nya 5. Bandingkan dengan blog saya yang hanya 3. Berarti kan web mereka banyak mendapat kunjungan. Ditambah lagi forum mereka juga cukup ramai. Jadi silahkan bergabung dengan agama itu kalau ada yang berminat. Hahahaha

Senin, 20 Agustus 2012

“Mistisisme Upanishad”


Dalam studi-studi pemikiran, corak pemikiran yang muncul di Timur memiliki ciri khas. Ciri utamanya adalah pendekatannya yang lebih spiritualis. Ia menekankan intuisi ketimbang rasio. Ciri seperti ini muncul di hampir semua sistem filsafat yang disebut sebagai filsafat Timur.
Tradisi sufisme akhirnya bisa ditemukan di hampir semua agama: Islam, Kristen, Budha, Hindu dan lain-lain. Dalam filsafat, ia sering disebut sebagai filsafat hikmah. Di dunia Islam, para filsuf-mistisis terutama datang dari tradisi Persia.
Dalam sebuah tulisan, Saras Dewi menyatakan bahwa kitab Upanishad bisa dikatakan memuat sendi-sendi sistem filsafat Timur. Tradisi mistisisme Timur seringkali disebut mengatasi kekeringan yang ada dalam pemikiran orang modern.  Bicara mistisisme Timur tidak bisa dipisahkan dari pembicaraan mengenai Budhisme. Sang Budha sering dianggap meletakkan dasar bagi mistisisme Timur. Sang Budha memilih meninggalkan dunia. Anehnya, pilihan itu justru diambil sebagai respon terhadap fenomena ketidakadilan sosial yang ia temukan. Ini paradoks.  Pilihan sikap Sang Budha ini sering dijadikan contoh dan model bagi para sufi dan kaum mistikus. Banyak kritikan yang muncul bahwa sikap anti-sosial mereka sebenarnya kontra-produktif dengan kemajuan.
Kita menemukan bahwa tradisi mistisisme juga marak di dunia klasik Islam sampai sekarang melalui ajaran tasawwuf dan terlembaga dalam tarekat-tarekat. Apakah ada geneologi antara tradisi mistisisme Upanishad (Hindu) dan Budha dengan tradisi tasawwuf yang muncul di dunia Islam?
Salah satu tema penting dalam studi pemikiran, termasuk mistisisme, adalah soal konsep kebahagiaan. Bagaimana mistisisme Timur memandang kebahagiaan? Kaum mistis biasanya menawarkan untuk mengurangi keinginan sebagai solusi meraih kebahagiaan, sebab keinginan adalah sumber penderitaan. Apakah sikap semacam ini tidak justru menjerumuskan kita pada sikap fatalistis?
Pendekatan yang digunakan para sufi biasa disebut pendekatan esoterik atau yang menhunjam langsung ke inti masalah. Ini berbeda dengan pendekatan eksoteris yang bicara pada hal-hal permukaan. Cak Nur menganalogikan sebuah roda dengan jari-jarinya. Semakin mendekat ke axis atau poros roda, semakin dekat jarak antar jari-jari itu. Ibn Arabi mengemukakan konsep Wihdatul Adyan, penyatuan agama-agama. Apakah mistisisme Timur itu memang mengarah pada konsep penyatuan agama-agama? Penting sekali menelusuri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Sufisme Budha


Hubungan antara Ajaran Buddha dan Sufi: 
Tanggapan terhadap Majid Tehranian

Alexander Berzin
November 2006
Aslinya diterbitkan dengan banyak catatan kaki sebagai
“Response to Majid Tehranian”
dalam Islam and Inter-faith Relations:
The Gerald Weisfeld Lectures 2006
,
eds. Lloyd Ridgeon and Perry Schmidt-Leukel.
London: SCM Press, 2007, 256-61
Dalam tulisannya berjudul “Pandangan Muslim terhadap Buddha”, Profesor Majid Tehranian menggarisbawahi pentingnya sebuah “peradaban global” yang mencakup nilai-nilai dari beragam tradisi keagamaan di dunia. Dalam makalah saya, “Pandangan Buddha terhadap Islam”, saya juga mengutip seruan Guru Terhormat akan pentingnya “tanggung jawab universal”. Peradaban global dan tanggung jawab universal bergantung pada dialog bermakna di antara agama-agama di dunia, seperti antara Buddha dan Islam. Dialog semacam ini bisa terjadi pada tingkat pemimpin agama maupun masyarakat umum. Selain itu, dialog juga bisa dilakukan pada tingkat yang bersifat umum maupun hal khusus yang terperinci.
Seperti disebutkan dalam makalah saya, pemimpin dan pengikut Buddha maupun Islam telah begitu abai akan keyakinan satu sama lain di masa lalu. Keadaan ini telah berubah secara perlahan pada masa kini, tapi ini membutuhkan usaha yang lebih besar. Oleh karena itu, dalam konteks ini, internet menjadi alat yang semakin bernilai dalam menyebarkan informasi dan berdialog, terutama di antara masyarakat, dan terutama lagi di antara orang muda. Bagaimanapun, pengguna internet dihadapkan pada kesulitan menemukan sumber informasi yang tepercaya dan tidak memihak di antara lautan informasi yang kadang saling bertentangan. Dalam menghadapi tantangan ini, rangkuman Tehranian mengenai kesamaan di antara ajaran Sufi dan Buddha adalah pilihan yang tepat terkait hal-hal yang umum, tapi rangkuman ini perlu dilengkapi dengan uraian terperinci tentang kasus-kasus khusus, untuk menghindari kesalahpahaman.
Sebagai contoh, Tehranian menulis, “Dalam sejarah, agama Buddha dan Islam telah bertetangga selama berabad-abad di Asia. Keduanya banyak meminjam satu sama lain. Hasilnya, tradisi keagamaan baru (misalnya ajaran Sufi) telah muncul dan memuat unsur-unsur dari keduanya.” Bagaimanapun, ada sebuah perbedaan besar di antara dua agama yang memiliki hubungan dan dua agama yang “banyak meminjam satu sama lain”.
Tehranian sungguh tepat ketika menyatakan, “Keduanya peduli dengan keadaan manusia yang lemah, rapuh, dan terbatas.” Namun, fakta bahwa keduanya berkenaan dengan persoalan-persoalan yang serupa tidak mengarah pada kesimpulan bahwa salah satunya pasti memengaruhi yang lain dalam merumuskan pandangan tentang persoalan-persoalan itu. Namun, ini tidak mengurangi kemungkinan bahwa gagasan-gagasan tertentu bisa dipinjam oleh agama tertentu dari agama yang lain. Tapi, pernyataan seperti meminjam perlu digambarkan secara tepat dan terperinci supaya bisa dipercaya. Bagaimanapun juga, ajaran Sufi dan Buddha memiliki sejarah panjang, cakupan geografis luas, dan keberagaman aliran dan guru, dengan masing-masing memiliki pernyataan pribadi yang unik.
Sebagai contoh, Abu Yazid Bistami (804-874 M) memasukkan ke dalam ajaran Sufi konsep-konsep tentang fana dan khud’a dari pengaruh gurunya, Abu ‘Ali al-Sindi. Fana berarti berhentinya keberadaan—penghancuran total ego pribadi dalam proses menjadi satu dengan Allah; khud’a berarti penipuan atau tipu-daya, sebagaimana gambaran akan dunia kebendaan. DalamHindu and Muslim Mysticism, R. C. Zaehner berpendapat secara meyakinkan bahwa al-Sindi, yang telah pindah dari agama lain, kemungkinan besar mengambil konsep fana dari Chandogya Upanishad dan konsep khud’a dari Svetashvetara Upanishad, sebagaimana ditafsirkan oleh pendiri Advaita Vedanta, Shankara (788-820 M). Walaupun segala bentuk ajaran Buddha berhubungan dengan topik serupa tentang nirwana—pembebasan dari kelahiran kembali yang berulang—dan banyak aliran Mahayana menyatakan bahwa dunia lahir itu serupa, meskipun tidak sama, dengan maya, ilusi, kecil kemungkinannya salah satu rumusan mereka memiliki peranan dalam perkembangan pemikiran Sufi.
Di sisi lain, kita bisa menemukan contoh-contoh peminjaman naskah dari ajaran Buddha ke dalam ajaran Sufi. Sebagai contoh, gambaran Buddha tentang sekelompok orang buta yang masing-masing menggambarkan seekor gajah secara berbeda karena tiap orang itu memegang bagian gajah yang berbeda, masuk ke dalam ajaran Sufi dalam tulisan cendekiawan Persia, Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 M). Al-Ghazali, yang merupakan pendukung sikap keraguan filosofis, menggunakan hal itu untuk menggambarkan bagaimana para teolog Islam hanya memiliki penggalan kebenaran, sedangkan Buddha menggunakannya dalam Sutta Aliran-Aliran Non-Buddha (Pali: Tittha Sutta) untuk menunjukkan kesia-siaan para fisuf non-Buddha yang saling memperdebatkan pandangan mereka.
Pengaruh Buddha lain terhadap ajaran Sufi terdapat dalam praktik upacara. Tehranian menunjukkan hal ini dalam acuan singkatnya kepada kekuasaan Mongol Ilkhan di Iran, (1256-1336 M). Lebih terperinci, lima dari enam pemimpin Ilkhan adalah pengikut Buddha Tibet, yang bukan hanyalah Ahmad Teguder (berkuasa 1282-1284 M). Ilkhan keenam, Ghazan (berkuasa 1295-1304 M), masuk ke Islam atas bimbingan guru Sufi Syiah, Sadr ad-din Ibrahim. Sejak saat itu, berkembangnya pemujaan terhadap makam para guru Sufi mungkin dipengaruhi oleh pemujaan umat Buddha terhadap bangunan stupa.
Ajaran Buddha yang dipinjam ke dalam Islam tidak terbatas pada ajaran Sufi saja. Penyebutan Tehranian terhadap peran Manichaeisme (ajaran Mani) sebagai sebuah jembatan menandakan adanya, sebagai contoh yang mungkin, catatan kehidupan-kehidupan lampau Buddha sebagai seorang bodhisattwa, yang dikenal dalam sumber-sumber Kristen abad pertengahan sebagai Barlaam dan Josaphat. Banyak diketahui bahwa versi Sogdian Manichaean akan catatan-catatan ini ditulis sebelum kemunculan pertamanya dalam bahasa Arab sebagaiKitab Bilawhar dan Yudasaf, yang dikumpulkan oleh Aban al-Lahiki (750-815 M) di Baghdad. Versi Islam ini memasukkan bagian-bagian dari catatan bahasa Arab tentang kehidupan-kehidupan lampau Buddha, Kitab Buddha (Ar. Kitab al-Budd), yang juga ditulis pada masa itu, berdasarkan terjemahan bahasa Arab dari dua naskah Sanskerta, Tasbih Catatan Kehidupan Lampau (Skt. Jatakamala) dan karya Ashvaghosha berjudulPerbuatan-Perbuatan Buddha (Skt. Buddhacarita). Karena naskah al-Lahiki tidak lagi tersedia, menjadi tidak jelas berapa banyak bahan yang juga ia masukkan ke dalamnya dari sumber-sumber Manichaean. Bila ada sebagian, kemungkinan besar itu mendapat pengaruh dari dialog antara cendekiawan Buddha dan Muslim Manichaean yang terjadi pada masa itu di dalam kerajaan Abbasiyyah.
Selain itu, ajaran Buddha yang dipinjam ke dalam peradaban Islam tidak terbatas pada wilayah agama atau sastra saja, tapi juga pengobatan. Penyebutan Tehranian tentang pengaruh keluarga Barmakiyyah dalam kerajaan Abbasiyyah mengacu pada kekuasaan khalifah Abbasiyyah keempat, Harun al-Rashid (berkuasa 786-809 M), dan wakilnya Yahya ibn Barmak, cucu Muslim dari salah satu kepala Wihara Nava di Balkh, Afghanistan. Meskipun pada saat itu cendekiawan Buddha telah hadir di Rumah Pengetahuan di Baghdad, Yahya mengundang lebih banyak cendekiawan Buddha, terutama dari Kashmir. Tapi, tak ada naskah filsafat Buddha yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di bawah dukungan Yahya. Alih-alih, perhatiannya adalah penerjemahan naskah pengobatan Buddha dari bahasa Sanskerta ke dalam Arab, terutama Samudera Pencapaian (Skt.Siddhasara) karya Ravigupta.
Bagaimanapun, persoalan yang lebih halus dibandingkan peminjaman ajaran agama, sastra, dan ilmu adalah persoalan etika bersama sebagai dasar bagi peradaban global dan tanggung jawab universal. Sebagai contoh, Sudan, Pakistan, Iran, dan Arab Saudi mencela Pernyataan Universal tentang Hak Asasi Manusia, yang ditandatangani di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1948, karena tidak memasukkan nilai-nilai agama dan budaya non-Barat. Keberatan mereka bermuara pada kelahiran Pernyataan Kairo tentang Hak Asasi Manusia dalam Islam, yang ditandatangani pada 1990 oleh 48 perwakilan negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam. Kesepakatan ini hanya mengakui hak-hak asasi manusia yang sesuai dengan Hukum Islam, Syariah.
Dengan mengacu pada Islam dan Buddha, Tehranian menyiratkan, “Ajaran Sufi sebagai jembatan antara dua tradisi keagamaan itu.” Menurutnya, salah satu alasannya adalah “Dalam Islam, ajaran Sufi mewakili tanggapan terhadap penekanan yang terlalu besar terhadap Syariah, Hukum Tersurat, sebagai lawan dari Hukum Tersirat, Tariqah.” Namun, sikap hati-hati dibutuhkan di sini. Beragam aliran Sufi mungkin hadir di banyak negara Islam saat ini, tapi fakta bahwa semua negara Islam menandatangani Pernyataan Kairo menandakan bahwa dasar etika apa pun bagi peradaban global ataupun tanggung jawab universal perlu memasukkan hukum Syariah. Oleh karena itu, sebagai dasar untuk dialog lebih lanjut dalam merumuskan etika semacam itu, penting untuk melaksanakan perincian dan pengenalan lebih dalam tentang pokok-pokok etika yang dimiliki bersama oleh agama-agama di dunia, termasuk oleh sistem yang sekuler.
Sementara itu, mengenai pendapat Tehranian bahwa ajaran Sufi bisa menjembatani ketertarikan umat Buddha dan Muslim untuk saling belajar, saya percaya ini memang bisa demikian, tapi hanya hingga taraf tertentu. Dalam menemukan pokok-pokok bersama di antara dua agama ini, saya berpikir penekanan pada mistisisme tidak akan membantu. “Mistisisme” adalah istilah teknis yang terutama digunakan dalam sistem keyakinan akan Tuhan sebagai cara untuk mencapai semacam persatuan gaib dengan Tuhan. Istilah semacam ini tidak relevan bagi agama Buddha. Yang lebih relevan adalah pentingnya guru rohani dan cara meditasi, seperti cara tertentu untuk mengembangkan cinta, latihan pernapasan, pengulangan mantra dan dikir, dan visualisasi. Namun, topik-topik seperti ini mungkin akan menarik dan relevan bagi sebagian kecil umat Buddha dan Muslim saja, dan tidak bagi kalangan umat tradisional di kedua agama. Dengan demikian, sebagai tambahan bagi informasi dan kajian perbandingan terkait Buddha dan Islam yang tersedia secara cetak maupun online, liputan media yang luas tentang kegiatan lintas iman yang diadakan para pemimpin agama, bukan hanya dua agama ini tapi sebanyak mungkin agama, akan bisa memberikan pengaruh lebih besar dalam usaha membangun keselarasan agama, peradaban global, dan tanggung jawab universal.