Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 November 2013

Xanthippe* Si Mar

Berbagi pagi di ranjang setelah berdua kunjungi malam yang gusar. Meluncurkan adukan dalam secangkir. Menyingkap tirai lalu duduk menyapu mega timur. Mentari menembuskan sunting tembakan cahaya berbagai kaliber. Mengganti tanda untuk padamkan obor-obor.
Koran-koran tahun lalu, pungutan sisa pelanggan tukang sampah. Dibaca dari balik kaca mata. Dengan pose tumpang kaki semanis tehnya. Sambil memantik api nyaris membakar ujung bibir. Dibolak-balik mencari berita korban mutilasi. Menjelajahi motif pelaku. Rumor disana mengatakan dipicu pengkhianatan kekasih. Pada sudut pandang ini, kekasih yang tak lebih dari budak pemuas hasrat. Beberapa malam setalah laut-laut memuncakkan ombak malam purnama. Di garis pantai pembunuh itu menelanjangi kekasih yang membuatnya patah hati. Dan Mar tetap Mar yang dulu, berdarah panas. Terbawa emosi merasuki pikiran pembunuh sadis itu.
“Mar, sayang… dimana kau sembunyikan BH-ku? “
“Mana ku tau, Mona… jangan rusak penyelidikanku kali ini!”
“kasus apalagi hey pemulung!?”
“Pembunuhan sadis”
“Bukankah kau lebih sadis membiarkanku melarat, Mar!?”
“Terserah lah apa katamu!”
Kelengangan Blok M menjadi motif paling unik untuk menampung raut pagi yang hampir tak merah. Tak lagi anjing dan tuannya melenggang berjogging bersama. Trayek yang lebih serius sedang terjadi di sana, di simpang jalan, besar dan rumit serta tentunya penuh asap. Menuntut penumpang setia angkutan kota berlarian menghambur. Mobil-mobil pribadi lebih santai lagi, mereka lebih suka mengikuti peraturan macet lalu lintas Jakarta. Mar juga macet karena Istrinya.
 Noni-noni menggerai topi lebar. Di pelantingan bus kota mampir halte dalam daftar kunjungan. Satu-satu memasuki pintu manual dengan kenek gesit. Dirangsek semuanya sesak, yang penting di atas roda. Gencetan kaki sopir. Pedal gas yang mulai ugal-ugalan panjat pedal rem mendadak. Terhentak serentak. Perhentian selanjutnya, lampu hijau yang juga macet. Meski selalu hijau. Mungkin ini hari kebebasan. Biarkan dua orang sopir dan kenek menikmatinya.
 Mar berjalan menyusuri tempat sampah. Diteliti plastik dan bahan logam yang bisa diangkut. Sayangnya dia tak punya pedal gas dan rem. Deretan penampungan barang-barang sisa itu tak menyediakan cukup waktu karena terlampau banyak. Banyak sekali yang mestinya layak ia angkut. Tapi kapasitas karung bawaannya tak memadai. Dan jika tidak lekas juga terangkut akan terdahului pemungut lain, layaknya Mar,  yang tentu mereka menginginkan pundi-pundi uang hasil penjualan barang bekas.
Dinding-dinding penuh graffiti melewati jembatan layang yang selalu menjadi trayek favoritnya. Ia tak mau menjajal rute lain. Beberapa waktu lalu ia menyelidiki kasus bunuh diri. Lagi-lagi perempuan. Ketika melintas jembatan penyeberangan. Perempuan itu, yang ternyata gadis yang masih berusia tujuh belas tahun. Ia berpegangan pada teralis samping jembatan. Dipanjatnya, setelah berdiri di atas teralis ia menggapai-gapai atapnya. Tidak ada yang tahu tepatnya. Bisa dikatakan berdasarkan data dari saksi mata perempuan itu bukan sedang berusaha menggapai atap. Tapi ia seakan sedang melambai berusaha mengejar seseorang. Lalu melompat. Dan penyeledikan Mar berhenti. Lantaran ia bukan ahli kejiwaan.
“Mar, dapat berapa hari ini?”
dapat apa Mona?”
“Duit!, apa lagi! Aku butuh duit Mar!.. Habis make perempuan harus ngasih duit”
jadi kamu suruh aku make’ WTS?”
“kesana aja, Mar..! asal dapat duit.”
Mar kalah telak kalau perdebatannya sudah urusan uang. Istrinya menampakkan seolah cinta yang melandasi pernikahan mereka sudah bukan hal penting. Ia lelah menghadapi kerasnya Jakarta. Suaminya juga tidak salah, karena telah bekerja keras. Memang karena lulusan Sekolah Dasar, suaminya hanya mampu memulung. Tapi kadang kata-kata kasar Mona seperti itu begitu saja keluar karena penatnya. Dan Mar pun menyadari ketidakberdayaan.
Ia mulai berpikir mencari pekerjaan lain. Setidaknya bukan pemulung.  

To be continued….

* Xanthippe adalah nama atau sebutan untuk istri yang cerewet dan pemberang, atau Xanthippe adalah nama istri Socrates

Kamis, 10 Oktober 2013

SISIK MELIK MARTINEM

Oleh: Lia Sholicha Amien
*****
“ Makanya Pak. Aku akan menceritakannya sekarang”.
“ Kamu ini maunya apa tho Nem? Martinah itu sepupumu sendiri. Masa’ kamu mau bilang dia ngingu  anjing? Bilangnya ke pakdhe Ngadimin lagi. Itu dosanya numpuk-numpuk Nduk. Pertama, kowe fitnah sepupumu sendiri, kedua,  kowe nyakiti hati Martinah, parahnya lagi, kowe bilang fitnah itu ke pakdhemu Ngadimin, bapaknya Martinah. Apa kau tak berpikir itu akan memperunyam hubungan Bapakmu ini sama Pakdhemu, kamu tahu sendiri to Nem, bapakmu ini banyak hutang sama Pakdhe Ngadimin."
“Itu dia masalahnya Pak, Bapak ingat tho Rasidi adik Tinem? Dia mati tiba-tiba Pak. Bapak ingat juga simbok yang setelah bantu-bantu di rumah itu mati juga?sekarang kaki Bapak tiba-tiba saja membengkak tanpa sebab!”
“Jangan seperti orang Jawa yang sangat suka menerapkan gathukkologi*. Kaki bengkak ini karena Bapak memang sudah tua Tinem. Tidak ada hubungannya dengan dedemit-dedemit yang katamu dihimpun keluarga pakdhe Ngadimin itu. Terkait kematian Rasidi,  adikmu itu kepleset dari lantai dua Nem. Lantas tersangkut tali jemuran yang Bapak bentang di pinggir rumah, lima meter dari lantai dua. Mengenai simbokmu itu, dia mati karena darahnya menukik”.
“Tapi, Pak….?!”
“Sudah lah Nem…bibir yang biasa kau pakai membaca Al-Qur’an, hari ini kau pakai menggunjing orang, Bagaimana Akhlaq perempuan yang baik menurut dawuh para kyaimu dulu?”
“Asaghfirullohal adzim”
Tinem mengucap istighfar dalam-dalam, meski ia yakin ia membawa bukti-bukti yang kuat, tapi petuah dari bapaknya mengingatkan Tinem pada Tuhan yang Maha Tahu. Pada Tuhan yang meracik takdir simbok dan adiknya menjadi terkesan terburu-buru meninggalkannya, dengan jalan yang tidak terduga-duga.
*****
Tinem memetik malam dari rembulan yang tembus kedalam jendela kaca kamarnya. Gadis delapan belas tahun itu merasa sangat merindukan ibu dan adiknya. Ibu yang sekarang sedang berlarian di taman surga dan adik yang memetik anggur di tepi telaga susu. Mata bulat Tinem berubah menjadi bendungan jebol, dengan tangis mengalir dari kelenjar air matanya, basahlah pipinya.
Dipan ini Mbok, adalah saksi setiap malam kau meghampiri malam-malamku yang sepi. Juga adik yang manja dengan berbagi cara yang ia miliki, kadang menjewer telingaku, kadang mngejekku, kadang menggoyang-goyangkan pantatnya ke kiri dan ke kanan, saat ia berhasil mengambil lari sepatuku. Aku kangen kalian.Tapi Bapak tidak ingin mengerti.
Kata batin itu adalah nyanyian Tinem sebelum akhirnya dipan memeluknya dengan lembut dan setia.
*****
Seperti malam-malam kemarin, selepas terlelap, Tinem akan berjumpa gerbang berpenjaga seekor anjing. Anehnya, anjing itu berwajah sepupunya, Martinah binti Ngadimin. Martinah mengintai dengan mata nyalang, senyum sombong di tebar sambil sesekali mulutnya menjilati bingkai foto terpasang di daun gerbang.
Setelah beberapa kali mimpi serupa, lama-lama aku sadar gerbang itu adalah gerbang rumahku, warnanya abu-abu. Setelah lebih cerma menatap,wajah ibu dan adikku terpasang dalam bingkai hitam legam, berjajar dari kanan ke kiri, di sebelah kirinya lagi tergantung bingkai warna emas yang masih kosong. Entah wajah siapa lagi yang akan terpasang disitu. Apa mungkin wajahku, atau wajah ayahku, atau kerabat yang lain? Atau tetangga dekat? Aku tidak tau. Tapi melihat dua contoh sebelumnya, sepertinya penghuni bingkai selanjutnya adalah orang yang juga dekat dengan almarhum dan almarhumah. Ah…sudahlah!.
Setelah ku ingat-ingat, tepi bingkai kosong itu sejak tadi malam berkedip-kedip merah.Aku tak tahu kenapa. Mugkin bingkai itu sedang memberi tanda, sebentar lagi si empunya akan datang. Tapi siapa?
Dan, malam ini, ayah tidak main sembunyi, iya berjalan mendekat kearahku, dengan baju putih dan merangkulku, lalu mencium keningku dalam-dalam.
“Bapak, tangan Bapak dingin sekali, Bapak sakit?”
“tidak, Nduk”
“Bapak tahu anjing dan potret-potret itu?”
“tau Nduk….”
“lantas? Kenapa Bapak memintaku diam ketika aku hendak berkata sesuatu?
“Bapak tau sejak lahir kau adalah anak yang bening hatinya, engkau memiliki kemampuan supranatural yang kau turuni dari nenek moyangmu, di jawa terkenal dengan sebutan sisik melik**. Sejak kecil kau memiliki intuisi yang sangat kuat. Terkadang kau marah ketika pertama kali melihat orang muncul dengan aroma jahatnya. Tapi Nduk, intuisi itu, tidak selamanya baik untuk diceritakan kepada semua orang, Bapak tidak ingin kau mendapat  bala dari ucapan-ucapanmu itu”.
“tapi Pak….?!”
“dedemit yang kau katakan, adalah warisan kakekmu. Semenjak kecil Bapak tau itu. Bapak melarikan diri dari rumah sejak usia 6 tahun. Karena Bapak tahu pesugihan yang dipakai nenekmu bentuknya anjing. Tapi apa boleh buat? Bapak tersadar bukan sejak masih janin. Jika dihitung, enam tahun sudah cukup banyak nominal yang dikeluarkan pesugihan itu. Di dalam kapiler darah Bapakmu ini mengalir jerih payah anjing. Merasa sudah memberi makan Bapak, tapi ayah tak mau tunduk, anjing itu sakit hati, salah satu akibatnya adalah ia mencelakai ibu dan adikmu, juga sampai detik ini memegang kaki Bapak kuat-kuat hingga Bapak harus berjalan dengan terseok”
“tapi kenapa mbak Martinah dan pakdhe Ngadimin ya,Pak?”
“barang kurang baik akan senang pada hati yang dengki Nduk, mungkin begitu”

******
Mimpiku terpotong lolongan anjing seperti malam-malam biasanya. Anjing itu menggonggong di sekitaran rumah, tapi kali ini suara itu sangat dekat, seperti di depan jendela kamar. Desar jantungku makin gusar. Mimpi itu seolah penuh dan hendak tumpah secara mengerikan ke ruang kamar. Ketakutanku dibawa angin ke jantung Bapak di kamar sebelah.
Sms pun masuk:
“Mau Bapak temenin maen poker?
Sms itu kusambut dengan girang. Sepasang sandal bergegas kukenakan. Tubuh yang penuh keringat ku bawa ke ruang tengah. Bapak seperti sudah tahu apa yang baru saja aku impikan. Pantat yang belum panas duduk di kursi ruang tengah, dan tangan yang baru saja menyambar setumpuk poker di meja, disambut dengan pertanyaan-pertanyaan esensialis ala filsuf dan sufi.
“Kau iman pada Alloh, Rasul dan Malaikatnya bukan?”
“Iya,…Pak, kenapa Bapak Tanya begitu?”
“Luar biasa kamu Nduk. Tidak perlu menimbun takut berlebihan. Anjing itu sekarang sedang di kejar malaikat Nduk, hendak di penthung kepalanya. Karena anjing itu menggoda tidur Martinem yang memegang rukun iman dan Islam. Tetaplah yakin Nduk, orang berkeyakinan jasadnya sepertinya sendiri, tapi sebenarnya mereka membawa pasukan yang siap mbedhil musuh dari arah mana saja”
“Tinem kangen ibu sama Rasidi Pak”
*****
Perbincangan pun digulung dalam pekat malam, bertaburan sedih merindukan orang-orang tercinta yang telah meninggalkan mereka.


__________________________________________________


*gathukkologi: gathuk berarti sambung, logos berarti ilmu/ilmu yang suka menghubung-hubungkan/menaut-tautkan tanda/pertistiwa.
**sisik melik: ilmu supranatural yang menurun dari nenek moyang ke anak cucu yang dikehendakinya, sesuai dengan wadah (kemampuan tubuh anak cucu tersebut) dalam menerima ilmu itu. 

Selasa, 27 Agustus 2013

Koprol, Sejarah Sebuah Nama


Sepantasnya jika sebuah nama disematkan kepada orok agar menjadi penunjuk harapan mulia. Setelah remaja banyak hal yang tidak dimengerti dan membuatnya bertanya-tanya, yang paling mengusik kenapa dia diberi nama Koprol. Beberapa sering kali bertanya justru yang banyak diterima semprotan dan umpatan ayahnya. Untuk kesekian kali ia pun bertanya kepada perempuan yang telah melahirkannya. Bahkan ibunya juga membisu seperti pur yang dipatok ayam, lenyap tak bersuara. Tak ada yang memberitahu alasan orang yang memberinya nama tersebut.
Nampak nyata lambaian bayang daun yang terbelai-belai angin, seperti ritme lambai tangan gadis yang sedang menikmati pergumulan dengan pria siapa saja. Irama itu seolah mencela Koprol yang sedang berbingung dalam permenungan. “Tapi kenapa aku harus memikirkan sejarah namaku, toh diganti pun bisa”, pikirnya.
Ia pun mengajukan diri kepada kedua orang tuanya “aku harus ganti nama”. Tapi setelah demo panjang lebar Ayahnya tidak setuju, “tidak semudah itu”. Koprol kembali lagi dalam kursi menung, “Sepertinya harus aku sendiri yang memulai pengubahan namaku. Tahun ini adalah saat mulai masuk Sekolah Menengah Atas, dan Ayah ingin sekolahku di kota besar. Kuawali dari sini saja agar nanti bisa kupakai nama baruku hingga aku kuliah dan sukses jadi pengusaha”, timang-timang pikirannya mengawang.
“ingat, Prol.. kamu akan sukses dengan namamu” Ayahnya memberikan kata pelepasan untuk kepergian Koprol ke kota. Koprol diantarkan Pakdhenya ke Jakarta, ia sangat yakin Jakarta lah kota impian untuk mengubah namanya.
Di perjalanan ia amati beberapa anak-anak jalanan yang memapah kotak berdawai ban bekas dengan lubang resonansi seadanya. Koprol berusaha menemukan kesadaran “betapa beruntungnya aku”. Tapi ada yang mengusiknya, kenapa anak-anak itu nampak sangat riang seakan air mata tak pernah sekalipun meleleh dari sudut mata mereka. Dan mereka sangat girang hingga berjungkir balik di atas trotoar.

“Pakdhe, kenapa mereka kelihatan gembira sampai jungkir balik begitu?”
“O, itu, itu namanya koprol”
“koprol, Pakdhe?”
“iya, koprol”
“itu kan namaku, Pakdhe”
“memang, itu namamu, masa’ kamu ndak pernah koprol jungkir balik gitu?”
“pernah sih Pakdhe.. hehe, o, itu namanya koprol ya Pakdhe”
“lho ya iya”
“sekarang aku tahu”

Koprol tak peduli lagi alasan kegirangan mereka. Yang ia aduk di kepala hanya terkaan-terkaan perihal namanya. Apa mungkin pemberian nama itu karena ia dilahirkan terbalik kaki yang keluar terlebih dahulu alias sungsang. Atau mungkin dulu ibunya atlet balet. Atau bisa jadi karena istilah “koprol” sedang marak ketika dia lahir. Tapi kenapa harus Koprol.  Dan yang aneh lagi kenapa Ayahnya berpesan seperti itu sebelum ia berangkat. Ia tak henti-henti memutar bola-bola pikiran itu di otaknya, hingga sesekali bola-bola itu bergesekan dan berbenturan sampai menghambur.
Serasa singkat saja Koprol dan Pakdhenya tiba di tempat tujuan. Menyalami Budhe dan dua sepupu yang masih balita, mandi, sajadah maghrib lantas menidurkannya. Tak sadar matahari sisa subuh sudah memanjati jendela kamar. Koprol masih berkelimpungan, sementara Pakdhe dan Budhenya tak tega membangunkan, karena Koprol terlihat sangat kelelahan setelah perjalanan. Enggan tubuh dikompromikan dengan semangat nama. Iya, Koprol masih terus meranjangi tubuhnya. Pelupuk mata hanya ingatan ketika tertutup saat malam pertama ia di Jakarta.
Dinding yang memampang angka-angka menunjuk angka sepuluh dengan sudut sembilan puluh derajat arah duabelas. Searah dua orang berlenggang di halaman rumah Pakdhenya, dua pengamen komplek yang mungkin profesional. Bagaimana jika mereka pengintai yang hendak menyatroni rumah Padhenya. Ya.. siapa tahu, yang pasti itu tidak mungkin prasangka Koprol, karena dia sedang dalam bawah sadar. Yang jelas dua orang itu berbekal gitar sambil mengumbar suara parau. Toh dua orang itu sedah berlalu dan menyambangi pintu lain.  Kelana yang berjalan dari rumah ke rumah menunggu uluran receh dari tangan-tangan yang menjulur dari dalam pintu.
Keadaaan sekitar rumah-rumah kiri dan kanan sangat lengang. Mungkin tinggal pembantu dan anjing penjaga yang tersisa. Sedang pemilik rumah masing-masing telah sibuk di belakang meja kantor, termasuk sang Pakdhe.
“Prol, bangun Prol…!” teriak Budhe Koprol, tanpa jawaban.
“Koprol, bangun, Jakarta menunggumu”

Mendengar kata Jakarta Koprol langsung bangkit. Dengan langkah seribu ia menuju kamar mandi. Ia ganti shalat Isya’ dan Subuh lalu meluncur ke ruang makan. Pandangannya  mencari-cari Pakhenya.

“Pakdhe mana, Budhe?”
“baru bangun kamu?, Pakdhemu sudah berangkat”
“berangkat kemana, Budhe?”
“ke kantor, besok kamu diantar sama Pakdhe ke sekolahmu”
“sekolahku jauh nggak, Budhe?                                                                         
“satu kilo meter dari sini, nanti biar Pakdhemu yang ndaftarkan”

Dalam beberapa hal Koprol lebih suka melakukan sendirian. Iya, dia suka kesendirian.  Tapi ada beberapa kegiatan yang ia rasa harus dilakukan dengan orang lain, termasuk urusan mendaftarkan sekolah. Lagipula di Jakarta, Pakdhenya lah yang menjadi orang tua walinya. Jam-jam berlalu, hingga pendiriannya untuk hanya berdiam di rumah tergoyahkan. Ia putuskan untuk berkeliling sekitar komplek. Dan lagi-lagi, sendirian. Setelah berjalan beberapa meter, ia menemukan sepi arena skateboard. Ia penasaran bagaimana rasanya berkoprol setelah itu adalah pengalaman masa kecil yang mudah ia lupakan.  Ia memang sudah lelah mencari jawaban dengan bertanya. Kali ini ia ingin mendapatkan jawabannya sendiri.
“Trus gue harus koprol sambil bilang wow gitu?!” apa istimewanya koprol hingga iklan pun memakainya. Tapi tampaknya orang yang berkoprol di telivisi itu sedang merayakan suatu yang menyenangkan seperti tingkah anak-anak jalanan yang ia temui lalu. Dan ia pun paham, koprol atau lebih kelihatan berjungkir balik, adalah sebuah ekspresi atau seleberasi kegembiraan seseorang. Paling tidak, orang yang memberi nama untuknya punya tujuan agar Si Koprol selalu bahagia. Sebuah jawaban yang cukup menghibur.
Hingga pertanyaan selanjutnya tentang ada apa dengan pesan Ayahnya. Dan itu juga ia yang harus menemukan sendiri jawabannya, mungkin nanti.
                                                               
Yogyakarta, 12 Maret 2012

Mustawa Tsaqalain, “Sampul Buku” Marleta


Di awal ini, tahun membentuk lingkaran besar salju prahara negeri, kian membeku. Bersama ledeng pemerintahan yang mengemasi air birokrasi, terangkut juga batu-batu es masalah yang terus mengeras, jika pun lekas mencair pasti membanjiri, kerunyaman negeri. Marleta mengunci neraca pikiran, ia tak hendak lagi menimbang kepelikan yang dibebankan dari segala penjuru nusantara, biarkan negeri ini pontang-panting.
Berkelimpungan di atas dipannya yang kering sambil mengamati merk atap yang dipasang oleh angsuran orang tuanya, ya, atap dengan merk yang saling berbeda. Ia menaksir dulu ayahnya adalah seorang veteran yang sekarang hanya gigit jari tanpa perhatian pemerintah. Sedangkan ibunya hanya pekerja serabutan, kadang mengepel, menyapu, kadang mencuci baju anak-anaknya termasuk baju Marleta. Iya, ibunya hanya ibu rumah tangga. Yang paling ia suka dari ibunya adalah karena tidak gemar mengeluh. Dari situ Marleta melihat ketabahan seorang Ibu.

“Ita, Mana baju kotormu, Nduk?”
“jangan dicuci dulu, Bu.. nanti Ita yang cuci”
  
Baginya Ibu adalah segala-galanya. Ibunya semakin tua, sementara ayahnya yang sekarang hanya bisa terbaring di atas ranjang. Marleta-lah yang akhirnya menjadi tulang punggung keluarga.
Marleta bekerja di konter restorasi hanphone, dengan tetangganya, Sarqo. Sepulang bekerja ia belajar. Pendidikannya memang terputus. Tapi ia lebih beruntung, dari saudara-saudaranya ia sendiri yang tamatan SMA, selainnya SD dan SMP. Dan lebih beruntungnya lagi ia tak patah semangat, terus menerus belajar dan rajin membaca buku, ia tertarik dengan filsafat.
Di tengah konsentrasinya pada atap-atap, pandangannya tertarik menuju luar jendela. Terdengar raungan motor Darwis dengan beberapa orang, teman-teman SMP Marleta dulu.
“tinggalkan dulu atapmu, Marle”
“tega sangat kau panggil aku Marle!”
“hehe, ayolah, Bob!”
“Bob Marley*? Orang reggae itu?”
“daripada Mbah Surip** kan?”
“awas kau Darwis! Aku lebih suka Mbah Surip, aku tahu filosofi lagu-lagunya”
“oke, mau tak gendong? Hehe… ayolah, hari ini musik spesial untukku, Marleta..”

Sebenaranya Marleta tidak suka diganggu ketika sedang asyik dengan pengamatannya. Akan tetapi, ya… akhirnya ia mengalah untuk kawan lamanya. Ya begitulah dunia rangkaian hubungan sosial, seperti lagu Iwan Fals “Teman Kawanku punya teman”, paling tidak, kita tidak mengecewakan teman kita.
Ia memperhatikan Darwis lalu pepohonan pinggir jalan, kambing-kambing giringan Pak Minto lalu terbersit kata-kata dalam Zabur, sambil tetap terus mengamati keluar jendela;
Apakah manusia hingga Engkau mengingatnya
Dan Bani Adam sehingga Engkau
Memperhatikannya?
Engkau membuatnya sedikti lebih rendah daripada makhluk-makhluk ilahi,
Dan memahkotainya dengan kemuliaan dan kehormatan
Engkau menjadikannya penguasa atas karya “tangan”-Mu.
Segala sesuatu Kautaklukkan di bawah kakinya:
Kambing domba dan lembu semuanya,
Juga binatang-binatang di padang,
Burung-burung di udara, ikan-ikan di laut,
Dan segala sesuatu yang melintasi relung lautan.
Ya Allah Ya Rabbana,
Betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi***

Ia kembali dalam kesadaran, berpakaian untuk menemui Darwis dan kawan-kawannya. Entah mengapa hari itu Marleta berdandan, dan mengapa terlihat sangat  cantik. Apa mungkin karena Darwis di sana. Ia dengan kemeja, yang biasa ia hanya mengenakan kaos oblong. Dan dilengkapi jeans klasik dengan perpaduan warna yang sangat pas.  Ia bahkan meraba penampilannya, dan mulai bertanya ada apa dengan dirinya, ia sendiri tak sadar. Jawaban sederhananya ia nampak cantik karena dia wanita.
“Ita, tolong belikan Ibu telur”, Ibunya memberi instruksi dari balik pintu kamar. Kebetulan ada Darwis nanti sekalian mampir ke toko kelontongnya, harga di toko kelontong Darwis cukup miring, pikir Marleta.
Setelah hari Darwis berlalu, tanda tanya besar mampat mengisi kepalanya. Dalam kerutan dahi akibat ulah alis yang beradu, Marleta membanting tubuh, kembali, di atas dipan tuanya. Sementara second opinion hasil terkaan pikiran hanya terparkir dalam titik yang tak memberi jeda untuk kegelisahannya. Karena ternyata di hari yang berlalu itu, Darwis menyatakan ingin segera melamar Marleta. Dan tampang Darwis ketika itu sama sekali tak terlihat tanpa keseriusan. Hingga Merleta juga melupakan telur pesanan Ibunya.
Ia ingin lekas melewatkan bagian ini. Tak mau pusing dulu memikirkan niat Darwis. Tekadnya hanya ingin terus belajar, melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya, urusan nikah nanti dulu. Tertujulah kembali matanya pada larik-larik buku, ruas demi ruas. Tapi pikirannya lagi-lagi tersergap menimang jawaban untuk lamaran Darwis. Mereka memang belum berstatus pacaran, dan sama-sama memiliki prinsip “pacaran, ya setelah nikah”. Dan usikan pikiran yang tak henti-henti berputar di kepalanya itu, ketika Marleta tengah berusaha asyik dengan buku.

*****
Hingga suatu pagi terdengar riuh rendah suasana keributan di rumah Darwis. Marleta pun menulusuri apa yang telah terjadi. Begitu menggemaskan Ibunya mengatakan: “Darwis terjerat tali, mati”. Marleta terhuyung, segera pandangannya gelap oleh kelopak mata, jatuh pingsan.
Terasa beberapa menit hingga akhirnya tersadar. Marleta berusaha bangkit meski keadaan tubuhnya masih sangat lemas, tapi ia tak peduli. Ia langsung menghubungi teman-teman SMP-nya untuk memberi kabar perihal Darwis. Tapi hatinya tetap ketar-ketir. Bagaimana dia bisa tenang, sementara beberapa hari sebelum peristiwa itu Marleta mengatakan kepada Darwis bahwa ia belum siap dilamar apalagi menikah. Dan bagaimana mungkin itu adalah Darwis yang terjerat tali, kecuali itu adalah Darwis yang gantung diri. Beruntungnya, Darwis tak meninggalkan jejak tentang Marleta. Bahkan Marleta sama sekali tak dicurigai pernah menjalin hubungan istimewa apapun dengan Darwis.
Melepaskan berbulan-bulan genggaman kesedihan. Marleta melenggang menuju hidup barunya di dunia akademis, ia mendapatkan beasiswa. Setelah pertimbangan dengan saudara-saudara dan ibunya, ia pun memutuskan menjemput beasiswa itu. Teringat kata terakhir yang dikutip Darwis untuknya, “Aku hidup bukan untuk kali ini saja, seperti kata Chairil Anwar yang ingin hidup seribu tahun lagi”, Marleta kembali sedih. Entah dimana Darwis setelah itu. Tapi dari kata-kata Darwis itulah Marleta tahu apa yang sebenarnya harus dicapai. Meskipun Merleta tak pernah percaya bahwa Darwis selemah itu.

Yogyakarta, 30 Robi’ul Awal 1434


_____________________

*         Musisi Raggae asal Jamaica, pioner gerakan Rastamania, lagu-lagunya melegenda hingga di Indonesia.
**   Almarhum Mbah Surip, terkenal dengan lagu “tak gendong”, beberapa seniman dan budayawan mengapresiasi lagu-lagunya yang dikatakan mempunyai perjalaan filosofis kehidupannya di negeri ini.
***    Disadur dari “Manusia hina sebagai makhluk mulia”, Zabur; Pustaka Marwa, Yogyakarta; Cet. I, 2006. Hlm. 31